
SURABAYA, iNiBlitar.com – Rakyat seluruh Indonesia memperingati hari Pahlawan pada 10 November 2023. Hari Pahlawan bertujuan untuk mengenang pertempuran sengit yang terjadi pada 78 tahun silam di Kota Surabaya. Tidak ada asap kalau tidak ada percikan api. Pergerakan tentara sekutu yang masuk ke Surabaya sudah cukup meresahkan, membuat gerah, dan darah mendidih. Apalagi di dalam sekutu ada tantara NICA. Ultimatum kepada arek-arek Surabaya untuk melucuti senjata membuat gerah. Mereka wani melawan dengan senjata seadanya. Tujuh hari dibombardir serangan dari udara, laut dan darat, nyatanya Surabaya tetap kokoh berdiri. Seperti apa sejarawan Kota Surabaya mencatat peristiwa ini?
Dilansir buku Tapak Sejarah Indonesia Kekinian, Surabaya 10 Nopember 1945, detik-detik battle of Surabaya direkam dengan apik. Berikut detik-detik Pertempuran Surabaya seperti yang tertuang dalam buku yang ditulis oleh Tim Ahli Cagar Budaya Kota Surabaya, Johan Silas, Retno Hastijanti, FA. Missa Demettawati, Handinoto,Purnawan Basundoro, dan Sumarno.
4-9 November 1945;
Secara diam-diam dan Divisi India V di bawah Jenderal E.C. Mensergh dengan 24.000 tentara, beserta 21 tank Sherman dan 24 pesawat terbang bersenjata berangsur-angsur dikirim ke Surabaya guna tugas menguasai dan membebaskan ribuan tentara Jepang dan orang Belanda yang masih berada di tangan pejoang Indonesia.
9 November 1945;
Penyebaran kertas selebaran dari udara hari ini dilakukan sebagai ultimatum agar warga Surabaya menyerahkan senjata yang dimilikinya tidak digubris. Bahkan ini dianggap sebagai tantangan yang wajib dihadapi. Pada pukul 17.00 Sungkono mengundang semua kekuatan unsur rakyat (TKR, PRI, BPRI, dsb.) berkumpul di Pregolan 4 guna menyatukan tekad dalam mempertahankan Surabaya. Walaupun tidak dilarang dan siapapun yang hendak meninggalkan kota boleh, namun para pemuda sebagian tetap di tempat masing-masing.
10 November 1945;
Pukul 6,00 Surabaya diserang sekutu, pukul 11,00 Pidato Gubernur Soerjo intinya menyerukan warga untuk bertindak demi kehormatan Bangsa dan Negara. Ia selanjutnya berkata bahwa hanya ada satu langkah yaitu Bangkit dan Berani menghadapi apapun. Lebih baik mati dalam kemuliaan dari pada hidup sebagai budak lagi. Tuhan menganugrahi kita dalam pertempuran ini. SELAMAT BERJOANG Pada waktu bersamaan, meriam kapal perang Inggris mulai memuntahkan bertubi-tubi mortir selama tiga jam ke bagian utara kota Surabaya. Pukul 9.00 Komando Pertempuran Surabaya mengeluarkan perintah resmi untuk melawan serangan pasukan sekutu (Inggris) yang dimulai dari pelabuhan Tanjung Perak. Pukul 9.30 Bung Tomo (di tempat tersembunyi) memberi komando pada barisan rakyat untuk bergerak dan bergabung dengan pasukan lain guna melawan serangan sekutu. Seruan Bung Tomo berbunyi”….selama banteng-banteng Indonesia masih berdarah merah yang dengan setitik darah tercurah di kain putih akan membuat bendera merah putih, selama itu juga kita tidak akan membawa bendera merah putih untuk menyerah kepada siapapun juga……” Guna menghambat kemajuan gerak tentara sekutu, di banyak tempat dibuat segala jenis pertahanan (termasuk barikade tempat tidur, dsb.). Salah satu ada disekitar paberik rokok Sampoerna dekat penjara Kalisosok dengan kekuatan sekitar 100 orang. Dengan meriam serangan udara para pejoang berhasil menembak jatuh pesawat tempur yang berpenumpang Komandan Batalyon Artiteli Brigadir (jenderal) Robert Loder-Symons dan membuat pertempuran di Surabaya menghasilkan dua Brigadir (Jenderal) Inggristewas. Hal seperti ini tidak pernah terjadi di manapun dalam sebuah perang perkotaan (urban warfare). Sebelumnya sekutu membuat peta foto udara Surabaya yang lengkap dan selesai tanggal 17 Agustus 1945 untuk dipakai pasukan udara dan laut. Peta tersebut tidak pernah dipakai dan dibuka setelah 40 tahun perang usai dan ada di beberapa buku tentang Surabaya yang terbit kemudian. Pada peta ada tanda agar masjid penting tidak kena bom seperti Mesjid Ampel, Mesjid Kemayoran, Dsb. Yang terjadi selama sekitar tiga minggu beruturut-turut di Surabaya setelah Sepuluh November adalah pertempuran yang tidak dikenal dalam sejarah kemerdekaan Indonesia karena dahsyat dan makan korban rakyat (pemuda) tidak kecil. Pers luar negeri menyebutnya sebagai The Battle of SURABAYA.

11 November :
Inggris mulai melakukan pengeboman dari kapal perang di Ujung. Tank Inngris nampak di jalan Jakarta sekitar pukul 14.00 diikuti oleh pasukan infantri. Terjadi tembak menembak antara tentara sekutu dengan para pejoang kita. Gerakan tentara sekutu juga mendapat lindungan pesawat tempur dari udara namun tidak membuat pemuda gentar. Keganasan pertempuran ini digambarkan dengan siaran pertama dari TKR yang berbunyi: “……Surabaya dan sekitarnya hancur. Serangan Inggris dilakukan dari udara, laut dan darat dengan menggunakan bom, tank baja, meriam besar. Serangan dan penembakan dilakukan secara membabi buta. prajurit-prajurit, rakyat Indonesia, Indo, Tionghoa, Belanda, India dan lain lain mati…..”Dengan berani para pemuda yang tergabung dalam PRI berasal dari berbagai gugus seperti Maluku, PRI Sulawesi, BPRI, TKR pelajar dan sebagainya terus melawan serangan ini secara gagah.
12 November:
Pertempuran berlanjut dan makin dahsyat. Front pertahanan bergeser ke Sidotopo, Jembatan Merah, Viaduc, dsb. Yang diikuti dengan pengeboman dari udara. Sejak pagi para pemimpin Surabaya seperti Pramuji (wakil ketua Markas Besar PRI) di damping Kusnaryono, Yonosewoyo, Sungkono, Bung Tomo, dsb. berkumpul untuk menyusun rancana serangan umum. Rencana serangan akan dilakukan esokan harinya.
13 November:
Sejak pagi buta serangan di awali di Masjid Kemayoran, Kantor Pos, Viaduc dengan kekuatan pemuda sebanyak 300-400 orang. Pertemuran di garis lini Viaduc tersebut mendapat bantuan dari PRI Maluku, PRI Kalimantan dan masih banyak PRI lainnya. Pasukan dukungan datang pula dari Surakarta, Bali dan Madura. Sekutu mengerahkan pasukan brigade 123 serta brigade 9 sebanyak dua kompi dibawah arahan panglima divisi untuk merebut lini Viaduc. Sebaliknya pasukan pejoang kita di beberapa tempat berhasil memukul mundur pasukan sekutu sampai di sekitar Jembatan Ferwerda (Petean). Tembakan dari meriam kapal mencapai sejauh Simpang Lonceng dan ada yang sempat menghanguskan gedung Siola. Sekutu dari kapal terbang menjatuhkan bom api dan bom waktu yang sangat keji dan menimbulkan banyak korban di kalangan pejoang dan rakyat. Sebagai balasan, para pemuda membakar rumah-rumah yang dihuni warga Belanda di jalan Darmo.
14 November:
Petang hari pasukan Inggris berhasil merapat ke lini Viaduc. Sedang pasukan pemuda Surabaya memilih berada pada pertahanan startegis di Pasar Turi, Bubutan, Keranggan, Blauran, Jagalan dan sebagainya. Dalam pertempuran ini para Kyai tidak mau ketingalan dengan memanjatkan doa-doa untuk keberhasilan perjoangan anak bangsa. Tekad dan sumpah dari are-arek Suroboyo adalah lebih baik melihat Surabaya berapi-api dan berdarah-darah dari pada dijajah kembali oleh Belanda. Pejoang fanatik banyak yang berasal dari Barisan Hizbullah pesantren Tebu Ireng. Daerah pinggiran seperti sekitar Pegirian, Nyamplungan mulai dijamah pasukan Inggris. Sungkono memberi perintah agar warga mempertahankan daerahnya dengan bantuandari beberapa pemuda bersenjata. Serangan sekutu dengan persenjataan yang lebih baik membuat para pemuda harus melakukan konsilidasi kekuatan di sekitar Kenjeran.
15 November:
Pasukan Inngris dari Alun-alun Contong bergerak ke sekitar Gemblongan. Pertempuran menyebar sampai ke Kapasan. Untuk menghindari jatuhnya korban penduduk di kampung-kampung, pasukan kita kembali melakukan tempat konsolidasi baru di Kapasari dan Tambaksari. Markas pemuda yang tekena serangan adalah yang di Jalan Widodaren (Wilhelminalaan), Ngemplak, Darmo dan Wonokromo.
16 November :
Markas BKR Kota di jalan Pregolan diserang dengan bom. Beberapa tokoh pemuda menjadi korban dan gugur antara lain Sutrisno dan yang luka parah adalah Ruslan Wongsokusumo, Beni Notosubiyoso, Suwondo dsb. Pemuda juga berusaha membumi hanguskan gedung Whiteway (Siola). Gedung yang rusak ini dilengkapi karung pasir dan jadi kubu pertehanan pasukan kita. Hotel Ngemplak yang berlokasi di pojok jalan Ambengan dan Ngemplak dijadikan markas MKR (Marine Keamanan Rakyat) yang juga menawan beberapa petinggi Jepang. Di sana terdapat pos wanita pejoang dengan tugas penyelamatan para pejoang pria yang luka. Mereka juga melakukan fungsi logistik mengirim makanan bagi para pejoang. Di jalan Sumatera ada berbagai markas BKR Laut yang dipimpin J. Sulamet. Juga di sana ada markas penerangan Angkata Laut Surabaya (PALS). Kawasan ini dilengkapi senjata senapan mesin dan sejenisnya yang diangkut dari Morokrembangan. Pertempuran makin sengit, seorang lawan seorang sehingga penulis buku The Birth of Indonesia David Wehl menyebut: “…there was no finghting in the Republic rank to compare with Sourabaya, either in courage or intencity….” Pihak Inggris mengakui bahwa selama berperang mereka belum pernah mengalami perang kota seperti di Surabaya yang berhadapan langsung di jalan, sesuatu yang baru bagi divisi ini. Dalam pada itu pasukan Inggris merebut beberapa senjata dari pasukan kita termasuk beberapa jenis tank, meriam artileri medan, berbagai ukuran senapan mesin dan sebagainya.
17 November :
Kantor Gubernur diduduki pasukan sekutu. Inggris benar-benar melaksanakan ultimatumnya dan pihak kita juga benar-benar melawan. Markas-markas pejoang menjadi sasaran dari pemboman udara maupun meriam kapal perang. Markas pemuda yang terkena bom antara lain di Wilhelminalaan (jalan Widodaren), Ngemplak, Wonokromo dan Darmo. Sehari sebelumnya markas BKR Kota di Pregolan juga terkena bom dan seorang tokoh pejoang Sutrisno gugur.
Di Surabaya peringatan tiga bulan Republik Inodnesia merdeka dilakukan dengan perang dahsyat. Dalam pada itu tokoh India yang kemudian jadi bapak bangsa Pakistan Muhammad Ali Jinnah sebelumnya berpidato mengecam keras tindakan sekutu di Surabaya dan mendesak Inggris tidak melibatkan tentara India (waktu itu Pakistan belum ada). Seperti ditulis di depan, akibat dari pidato ini sekitar 400 tentara India yang beragama Islam menolak untuk dikirim ke Surabaya serta senjatanya dilucuti dan diistirahatkan di Bogor tanpa hukuman apapun.



Tinggalkan Balasan