IniBlitar – Ketika kita mengingat Hari Sumpah Pemuda, rasanya kita hanya sekadar membaca buku sejarah, menghafal kalimat sumpah, lalu selesai. Tapi di sudut-sudut Kabupaten Blitar, sumpah itu terasa asing bagi mereka yang masih hidup dalam keterbatasan. Di desa-desa yang sunyi, di sawah dan kebun, keresahan itu tumbuh seperti ilalang, tinggi dan liat. Sumpah yang pernah digelorakan pada 1928 “Kami putra dan putri Indonesia, mengaku bertumpah darah yang satu, tanah Indonesia” sekarang nyaris terasa seperti gema yang meredup.
Andai seorang seperti Tan Malaka masih hidup, mungkin ia akan mengajak para pemuda Blitar duduk di bawah pohon, lalu bercerita tentang arti keberanian yang sebenarnya. Bukan soal pidato yang ramai, bukan sekadar mengacungkan tangan dengan lantang, tapi bagaimana berjuang bersama rakyat, merasakan kepedihan mereka, dan tahu persis apa yang perlu diubah. Tan Malaka pernah berujar, “Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.” Tapi di Kabupaten Blitar, kemewahan itu telah lama tergerus oleh hidup yang serba sulit. Bagaimana seorang pemuda bisa memikirkan perubahan ketika mereka terjebak dalam masalah-masalah sehari-hari, seperti pendidikan yang terbatas, ekonomi yang seret, dan perhatian pemerintah yang entah datang entah tidak?
Atau mari kita ambil contoh dari Marsinah, seorang buruh perempuan yang berani berdiri menuntut hak-hak dasarnya. Dia bukan pemimpin yang terkenal, bukan pula aktivis yang dilatih untuk orasi, tapi dia tahu, ada yang salah dan dia punya nyali untuk menghadapinya. Jika para pemuda di Blitar bisa mengikuti jejak Marsinah, menyuarakan hak-hak mereka, bukan demi ambisi pribadi tetapi untuk kehidupan yang lebih adil, mungkin sumpah itu akan terasa lebih hidup.
Di hari ini, Hari Sumpah Pemuda, mari kita tanyakan pada diri sendiri apa arti sumpah ini bagi kita di Blitar? Jika hanya sekadar mengenang, lalu esok hari kembali pada rutinitas yang sama, untuk apa kita mengulangnya setiap tahun? Kita, pemuda Kabupaten Blitar, harus berani mengambil tindakan kecil. Entah itu memperbaiki jalan desa bersama-sama, menggelar kegiatan literasi di pos-pos RT, atau sekadar mendengarkan keluhan warga di sekitar kita. Perubahan tidak harus besar, tidak harus spektakuler, tapi ia mesti nyata.
Jangan biarkan sumpah itu teronggok sebagai kenangan. Jadikan ia bekal untuk terus bergerak, seperti Tan Malaka yang berkelana demi cita-citanya yang tak pernah padam, atau seperti Marsinah yang tak gentar memperjuangkan hidup yang lebih layak. Kita bukan hanya pewaris sumpah itu, tapi juga perpanjangan tangan dari mereka yang pernah berjuang, yang hidupnya tak melulu soal kesenangan, melainkan keberanian untuk menuntut apa yang benar.
Hari ini, mari kita nyalakan kembali api sumpah itu di Kabupaten Blitar. Bukan sekadar ucapan, tapi langkah yang akan membuat sumpah itu hidup kembali di jalan-jalan yang berdebu dan sawah-sawah yang menguning. Karena pada akhirnya, sumpah ini adalah milik kita semua, milik mereka yang berani bertanya, berani bersuara, dan tak takut pada perubahan.



Tinggalkan Balasan