Mak Rinni diduga membaca contekan saat pidato debat kedua Pilbup Blitar, Seninn (4/11) malam.

BLITAR, iNiBlitar.com – Debat publik kedua Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Blitar 2024 yang digelar di salah satu tempat wisata edukasi di Kecamatan Kademangan, Senin (4/11/2024) malam, berakhir ricuh.

Acara debat dengan tema “Meningkatkan Pelayanan Masyarakat dan Menyelesaikan Persoalan Daerah” terpaksa dihentikan oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) setempat setelah suasana memanas saat pasangan calon nomor urut 1, Rijanto-Beky, dan pendukungnya memprotes calon bupati petahana, Mak Rini.

Dipantau dari akun Youtube KPU Kabupaten Blitar,debat awalnya berlangsung lancar. Paslon Rijanto-Beky yang diusung PDI Perjuangan mendapat giliran pertama memaparkan visi misi mereka. Rijanto membuka pidatonya dengan menyinggung penanganan bencana puting beliung yang belum lama ini terjadi di Kecamatan Gandusari dan Srengat.

Ia mengisahkan upaya gotong royong bersama pasangannya, Beky, dalam membantu para korban di lokasi kejadian. Paslon nomor urut 1 ini juga menampilkan dukungan mereka terhadap produk lokal dan disabilitas dengan mengenakan sarung dan jaket hasil UMKM setempat. Rijanto menekankan komitmen mereka dalam peningkatan pelayanan publik dan peluncuran program “Halo Bupati” untuk menampung keluhan masyarakat.

Namun, ketika giliran calon bupati Mak Rini tiba, suasana mulai tidak kondusif. Mak Rini terlihat seperti membaca catatan saat menyampaikan visi misinya. Hal ini memicu protes dari pendukung Rijanto-Beky yang menginterupsi jalannya acara dan meminta KPU serta moderator untuk bertindak.

Ketegangan memuncak ketika petugas keamanan berusaha naik ke panggung untuk memeriksa catatan yang digunakan Mak Rini, tetapi dicegah oleh calon wakil bupati Abdul Ghoni yang langsung membisikkan sesuatu kepada Mak Rini. Usai interupsi tersebut, Mak Rini menghentikan pidatonya.

Paslon Rijanto-Beky akhirnya memilih meninggalkan panggung debat sebagai bentuk protes. Keputusan tersebut menyebabkan debat publik yang diharapkan menjadi ajang penilaian masyarakat terhadap visi-misi paslon terhenti di tengah jalan.