Jagat media sosial Blitar dihebohkan dengan beredarnya sebuah video berdurasi singkat yang memperlihatkan dugaan aksi perundungan terhadap seorang siswa di SMP Negeri 3 Doko, Kabupaten Blitar. Video itu ramai diperbincangkan dan mengundang berbagai komentar dari warganet.
________
Dalam video yang diunggah di Instagram dan sejumlah grup WhatsApp lokal, terlihat seorang siswa dikelilingi oleh teman-temannya saat kegiatan yang diduga berlangsung pada masa Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Belum ada keterangan resmi terkait penyebab maupun kronologi lengkap kejadian tersebut.
Sejumlah warganet mengungkapkan keprihatinannya. Akun @barya.nirwana menuliskan, “Sakno arek e min, wong tuane pilih damai 😢.” Sedangkan @taufiq_aspandi menanggapi lebih tajam, “Iki loh akibat e lak ndidik cah sak iki mek gae cangkem tok… ortu kudu paham, ojo bangga lek anak e kemleletan.”
Tanggapan nyinyir juga datang dari akun @angelfineeee yang menyebut, “Sekolah pelosok ae bertingkah,” serta komentar lain seperti, “Mantap SMP 3 Doko…lek ra ngene Doko ra kondang,” tulis @hermoyobambang.
View this post on Instagram
Menanggapi viralnya video tersebut, Kepala Dinas Pendidikan (Dispendik) Kabupaten Blitar, Adi Andaka, angkat bicara. Ia membenarkan bahwa insiden tersebut terjadi pada Jumat (18/7) sore, saat kegiatan kerja bakti siswa.
“Langsung kami tindak lanjuti keesokan harinya. Semua pihak, termasuk orang tua, Babinsa, Bhabinkamtibmas, dan perangkat desa diundang untuk klarifikasi,” ujar Adi Andaka dikutip dari Radar Blitar, Senin (21/7).
Karena mayoritas siswa yang terlibat berasal dari lingkungan desa yang sama, mediasi dilakukan di rumah salah satu siswa. Dalam mediasi itu disepakati bahwa penyelesaian akan ditempuh secara kekeluargaan. Namun, permintaan pembinaan tetap dikabulkan.
“Beberapa siswa akan dibina oleh Babinsa agar tidak mengulangi kesalahan yang sama. Kami juga mengawal proses ini agar ada efek jera,” tegas Adi.
Diselesaikan Kekeluargaan
Pihak sekolah bersama orang tua siswa telah menandatangani surat pernyataan komitmen pada Senin pagi (21/7). Meski diselesaikan damai, Dispendik menyatakan akan terus mengawasi perkembangan situasi di sekolah tersebut.
“Penyelesaian kekeluargaan bukan berarti selesai begitu saja. Kami tetap memberikan pembinaan dan evaluasi secara menyeluruh,” pungkasnya.
Kasus ini menjadi sorotan publik yang menuntut agar pihak sekolah tidak lagi abai terhadap kondisi psikologis dan keamanan siswa. Dispendik pun diminta bertindak tegas untuk mencegah kasus serupa terulang.***



Tinggalkan Balasan