Kasus seorang siswa salah satu  MTs Negeri di Kota Blitar yang rambutnya dipotong paksa oleh petugas keamanan sekolah, memicu polemik dan jadi perbincangan panas di media sosial. Insiden yang terjadi Selasa (15/7/2025) lalu itu berbuntut panjang setelah orang tua siswa melayangkan somasi kepada pihak sekolah. Alih-alih mendapat dukungan, Netizen malah menyarankan orang tua untuk membuat sekolah sendiri.

__________________

Siswa berinisial M.H.A itu mengaku baru dua hari sebelumnya potong rambut di barbershop. Namun saat berada di lingkungan sekolah, tanpa ada teguran ataupun pemeriksaan ulang, rambutnya langsung dicukur hampir plontos oleh petugas keamanan. Akibatnya, M.H.A merasa dipermalukan di depan teman-temannya dan mengalami tekanan psikis berat.

“Anak saya sampai histeris menangis. Rambutnya dipaksa dicukur hingga botak 0,5 cm tanpa proses klarifikasi terlebih dahulu. Ini sangat merendahkan martabat anak,” ujar kuasa hukum keluarga, Trijanto, dikutip dari akun Instagram @Indonesia.Core, Selasa (22/7/2025).

 

View this post on Instagram

 

A post shared by INDONESIAN CORE (@indonesian.core)

Dalam surat somasi, keluarga menuntut permintaan maaf terbuka dari pihak sekolah, evaluasi terhadap pelaku pencukuran, serta jaminan agar kejadian serupa tidak terjadi lagi. Mereka memberi tenggat waktu 3 x 24 jam. Jika tidak ditanggapi, keluarga akan melapor ke KPAI, Komnas HAM, Ombudsman RI, hingga Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur. Tak hanya itu, jalur hukum pidana dan perdata pun siap ditempuh.

Ramai di Media Sosial

Kasus ini pun viral dan mengundang beragam reaksi dari warganet. Namun, alih-alih mendapat simpati, banyak komentar justru menyayangkan sikap orang tua siswa yang dinilai terlalu berlebihan. Mereka memberi komentar pada postingan Instagram @Indonesia.core

“Anak zaman dulu dibotakin juga biasa aja. Gak ada drama segala,” tulis akun @resa_koi.

“Kalau gak siap ikut aturan sekolah, mending homeschool aja,” timpal akun @rr_robi131.

Bahkan ada yang menyarankan agar orang tua siswa membuat sekolah sendiri jika tak terima aturan yang ada.
“DO. Bikin sekolah sendiri kalau gak cocok,” tulis akun @cepsamsul411.

Meski begitu, tak sedikit juga netizen yang menilai pihak sekolah semestinya mengedepankan pendekatan persuasif dan tidak bertindak sepihak.
“Sebaiknya beri peringatan dulu, bukan langsung potong. Aturan harus ditegakkan, tapi prosedur juga penting,” tulis akun @pakdhe.blangkon.***