Tak lama lagi Indonesia genap delapan puluh tahun. Sebuah usia tua bagi republik muda. Pada kalender, 17 Agustus tinggal menghitung hari. Dan seperti biasa, bendera Merah Putih mulai ramai dikibarkan: di atap rumah, di sudut-sudut kota, bahkan di kaca-kaca mobil. Tapi tahun ini, ada bendera lain yang turut berkibar: tengkorak bertopi jerami. Jolly Roger, begitu ia disebut, dari dunia fiktif bernama One Piece.

__________________

Bendera itu, dalam kisah Monkey D. Luffy dan kawan-kawannya, bukan simbol kekerasan. Ia tanda pembangkangan. Pemberontakan terhadap dunia yang busuk. Dunia yang dikuasai Pemerintah Dunia, Tenryuubito, dan kekuasaan yang penuh dusta. Dunia yang, entah mengapa, semakin lama semakin mirip dengan dunia yang kita huni: dunia yang dikuasai kepentingan, di mana hukum seringkali tunduk pada uang, dan janji-janji hanya pantulan dari kekuasaan yang sedang bercermin.

Tentu saja bendera itu memicu perdebatan. Ada yang marah. Ada yang resah. Seorang anggota parlemen menyebut pengibarannya sebagai penghinaan terhadap negara. Tapi saya kira, di balik polemik itu, ada sesuatu yang lebih dalam: semacam jeritan. Sebuah simbol bahwa anak-anak muda kita—yang katanya generasi emas—telah kehilangan imajinasi terhadap negara.

Mereka tidak membakar bendera. Mereka tidak mengangkat senjata. Mereka hanya mengibarkan lambang dari sebuah kisah yang mereka cintai—sebuah dunia imajiner yang, meski fiktif, terasa lebih adil dari dunia nyata.

Saya teringat bagaimana One Piece memaknai perjalanan. Bukan soal tujuan akhir, bukan soal harta di Laugh Tale. Tapi tentang persahabatan. Tentang menolak tunduk. Tentang berlayar melawan arus demi sesuatu yang disebut mimpi. Dan bukankah kemerdekaan kita dulu juga lahir dari mimpi yang seperti itu?

Tapi kini, delapan dekade kemudian, mimpi itu terasa jauh. Negeri ini bukan tanpa cita, tapi terlalu banyak yang mencita-citakan dirinya sendiri. Dari pengadilan yang bisa dibeli, kementerian yang menyimpan skandal, hingga lembaga antikorupsi yang kini sepi taring. Republik ini penuh orang yang terlampau percaya bahwa jabatan adalah takdir, bukan amanah.

Di tahun 1974, saat Hong Kong tenggelam dalam lumpur korupsi, mereka mendirikan ICAC—Independent Commission Against Corruption. Di tahun 2002, Indonesia meniru dengan membentuk KPK. Kala itu kita percaya pada satu hal: bahwa yang kotor bisa dibersihkan, bahwa kebenaran bisa ditegakkan dengan ketekunan. Tapi 20 tahun kemudian, kita justru melemahkan satu-satunya institusi yang tersisa, dan seolah lupa bahwa negara tanpa integritas adalah negara tanpa arah.

Dalam One Piece, Pemerintah Dunia takut pada mereka yang bebas berpikir. Karena orang-orang seperti Luffy bukan sekadar bajak laut. Mereka ancaman terhadap sistem yang korup. Maka wajar bila pengibaran Jolly Roger hari ini membuat sebagian orang panik: ia adalah simbol dari ketidaktundukan.

Barangkali itu sebabnya, di negeri yang mengaku demokratis ini, kita justru takut pada simbol. Kita tak gentar menghadapi koruptor, tapi resah pada tengkorak kartun. Kita diam pada penjarahan uang negara, tapi gaduh pada selembar kain yang dikibarkan anak muda.

Delapan puluh tahun. Usia matang, kata orang. Tapi kadang saya bertanya: apakah republik ini benar-benar dewasa, atau hanya menua? Apakah kemerdekaan ini sungguh kita rayakan, atau hanya kita ulangi?

Mungkin, yang lebih menakutkan dari bendera bajak laut, adalah jika generasi muda tak lagi percaya pada bendera sendiri.***