Sebuah mobil berlogo Patroli Anak Sekolah suatu siang berhenti di sebuah gang kecil di Kota Blitar. Petugas turun, menanyakan seorang remaja yang terlihat nongkrong saat jam pelajaran. Mobil ini bukan untuk menakut-nakuti, melainkan bagian dari ikhtiar Pemkot Blitar menekan angka anak putus sekolah (ATS).
___________________
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menegaskan masalah anak putus sekolah bukan sekadar soal biaya pendidikan. “Banyak faktor. Ada yang kurang mendapat pengawasan keluarga, ada pula yang harus membantu orang tua bekerja karena kondisi ekonomi,” ujar Syauqul Muhibbin dikutip dari keterangan resmi Pemkot Blitar.
Karena itu, strategi Pemkot tidak hanya berhenti pada sekolah gratis. “Intervensi harus menyentuh level keluarga. Pemberdayaan ekonomi orang tua juga penting, agar anak-anak tidak lagi terbebani bekerja,” lanjutnya.
Lintas Sektor Turun Tangan
Kepala Dinas Pendidikan Kota Blitar, Dindin Alinurdin, mengungkapkan pihaknya terus memperkuat koordinasi lintas sektor. Data anak rawan putus sekolah tengah diverifikasi melalui dapodik dan survei lapangan. “Target sinkronisasi selesai akhir bulan ini,” jelasnya.
Langkah lain yang kini dibahas adalah membuka jalur alternatif melalui pendidikan nonformal dan program kesetaraan. Tujuannya, agar anak yang sudah telanjur putus sekolah tetap bisa melanjutkan pendidikan dalam bentuk lain.
Data, Pendampingan, Pemberdayaan
Pemkot Blitar menyiapkan strategi berlapis: mendata anak-anak rawan putus sekolah, mendampingi mereka, lalu memberdayakan keluarga yang rentan secara ekonomi. “Setiap data baru yang masuk, langsung kami tindaklanjuti dengan pendampingan,” kata Dindin.
Syauqul menambahkan, hadirnya mobil patroli sekolah terbukti efektif menjaring anak-anak yang kedapatan tidak bersekolah. Namun, langkah itu hanya pintu awal. “Kuncinya tetap ada di pendampingan dan pemberdayaan keluarga,” tegasnya.
Kota Blitar berharap, dengan strategi menyeluruh ini, tidak ada lagi anak yang kehilangan hak dasarnya untuk belajar.***



Tinggalkan Balasan