Segoro kidul sedang bergolak. Nelayan dan pelaku pelayaran di pesisir selatan Jawa Timur –dari Pacitan hingga Banyuwangi—harus ekstra waspada. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) merilis peringatan dini gelombang tinggi yang terjadi di segoro kidul sejak Senin hingga Kamis (15-18/9/2025).
____________________
Pola angin di wilayah perairan Jawa Timur umumnya bertiup dari arah tenggara hingga selatan dengan kecepatan 8–25 knot. Kondisi cuaca diperkirakan cerah berawan, namun berpotensi hujan ringan di Laut Jawa bagian timur dan perairan selatan Jatim.
Gelombang dengan kategori tinggi (2,5–4 meter) berpotensi terjadi di perairan Banyuwangi, Jember, Lumajang, Malang, Blitar, Tulungagung, Trenggalek, hingga Pacitan. Adapun gelombang sedang (1,25–2,5 meter) diprediksi muncul di perairan Kepulauan Kangean bagian timur dan selatan.
Sejalan dengan peringatan itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Blitar juga mengeluarkan imbauan khusus kepada nelayan dan wisatawan. Plt Kepala BPBD Blitar, Bayu Purna, menyebut gelombang laut di wilayahnya bisa mencapai 3,2 meter. “Skala gelombang di bawah 2,5 meter masih dianggap rendah. Tapi kalau sudah di atas itu, seperti saat ini, maka perlu diwaspadai. Kami imbau nelayan dan wisatawan lebih berhati-hati,” ujarnya.
Wilayah yang mendapat perhatian khusus mencakup Pantai Jolosutro hingga Pantai Pasur. BPBD menyalurkan imbauan melalui camat setempat agar masyarakat selalu memantau kondisi cuaca sebelum melaut atau beraktivitas di pantai. Peringatan itu berlaku sejak 10 hingga 17 September 2025.
“Keselamatan adalah yang utama. Kami akan terus mengikuti perkembangan dari BMKG dan segera menyampaikan pembaruan jika ada perubahan kondisi,” tambah Bayu dikutip dari Kubus.id.
BMKG menegaskan, kapal nelayan kecil, kapal tongkang, dan kapal feri perlu memperhatikan risiko tinggi saat melintas. Meski gelombang sangat tinggi (4–6 meter) dan ekstrem (di atas 6 meter) belum terdeteksi, kewaspadaan tetap harus diprioritaskan. Laut selatan Jawa Timur yang sedang bergolak bisa mengancam keselamatan, terutama bagi nelayan tradisional yang sehari-hari menggantungkan hidup di perairan itu.***



Tinggalkan Balasan