Membeli rumah kini terasa seperti mimpi bagi kelas menengah ke bawah. Padahal, Presiden Prabowo Subianto sudah menancapkan janji besar: membangun tiga juta rumah selama masa pemerintahannya.

____________

Duet Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait dan wakilnya, Fahri Hamzah, memanggul target jumbo itu. Namun realita jauh dari gemilang. Hingga Agustus 2025, capaian baru 190.335 unit atau 6 persen saja dari target. Angka itu terdiri dari rumah terbangun dan akad 40.967 unit serta penyaluran KPR subsidi FLPP 149.368 unit.

Pemerintah mengklaim terus menggenjot program. Presiden menaikkan kuota Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) dari 220 ribu ke 350 ribu unit. Dana tersedia, instruksi jelas. Namun, hambatan struktural tetap tebal. Fahri Hamzah mengakui izin berlapis membuat pengembang enggan bergerak. Harga tanah menyumbang 40 persen dari harga rumah, sedangkan daya beli masyarakat rendah. Banyak calon pembeli ragu masuk akad meski cicilan disubsidi.

Fahri menawarkan solusi dengan membentuk lembaga off-taker khusus perumahan, mirip Bulog yang menampung gabah petani. “Pengembang hanya bangun di lahan yang ditunjuk, pemerintah yang menampung,” ujarnya.

Maruarar mengusung jurus lain. Ia mendorong lahirnya bank tanah khusus perumahan, menghidupkan kembali Perumnas, serta memperluas akses KUR Perumahan. Ia juga menggenjot Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS) yang ditargetkan naik delapan kali lipat pada 2026.

Mesin fiskal PKP belum berjalan penuh. Hingga pertengahan September, serapan anggaran baru 34,58 persen dari Rp 5,27 triliun.

Gotong Royong ala Pemuda Shiddiqiyyah

Sementara pemerintah masih berkutat dengan birokrasi, pemuda Shiddiqiyyah membuktikan cara lain. Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) di Jombang, Jawa Timur, rutin membangun puluhan rumah layak huni setiap tahun.

Mereka bergerak tanpa APBN. Modal datang dari iuran pribadi dan gotong royong jama’ah. Mereka menamai program itu Rumah Syukur Layak Huni Shiddiqiyyah (RSLHS). Tahun ini, nama program berubah menjadi RSLHS Fatchan Mubiina, sebagai lambang kemenangan bersama lewat syukur dan kebersamaan.

Gotong royong ala OPSHID membuktikan masyarakat bisa menghadirkan hunian layak tanpa menunggu panjangnya birokrasi. Informasi selengkapnya baca laman kosong.id.