Malam itu, Jakarta dan Yogyakarta bergelap, namun ketegangan terasa menelan seluruh kota. Di kediaman perwira TNI AD, pasukan Gerakan 30 September 1965  (G30S PKI) menyerbu. Mereka menculik, menyiksa, lalu membunuh para korban. Jenazah mereka ditemukan kemudian di Lubang Buaya, Jakarta. Pemerintah menganugerahi gelar Pahlawan Revolusi kepada mereka yang gugur dalam peristiwa itu (Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani, 2021).

__________

Di antara mereka, Jenderal TNI Ahmad Yani memimpin Angkatan Darat dengan disiplin besi. Letnan Jenderal M.T. Haryono sibuk merencanakan strategi pertahanan, sementara Mayor Jenderal D.I. Pandjaitan memastikan logistik tetap berjalan. Malam itu, Kapten Pierre Andreas Tendean, ajudan Jenderal Nasution, menjadi korban salah sasaran. Di Yogyakarta, pasukan menyerang Brigjen Katamso Darmokusumo dan Kolonel Sugiyono Mangunwiyoto di Kentungan (Kompas.com, 20 Mei 2021).

Kehilangan tidak hanya menimpa kalangan militer. Ajun Polisi Karel Satsuit Tubun mati saat mempertahankan kediaman Wakil Perdana Menteri II, Dr. J. Leimena. Lima tahun, Ade Irma Suryani Nasution, putri bungsu Jenderal Nasution, menghadapi maut ketika pasukan mencoba menculik ayahnya. Tembakan menghentikan hidupnya, meninggalkan duka mendalam bagi keluarga (Kompas.com, 2021).

Di hari-hari berikutnya, gelombang kekerasan menyebar ke desa-desa. Aparat dan kelompok tertentu menangkapi anggota dan simpatisan PKI, serta mereka yang dianggap berafiliasi. Di Jawa Tengah, Jawa Timur, Bali, dan Sumatera Utara, ratusan ribu warga menghadapi eksekusi tanpa pengadilan atau meninggal di kamp tahanan (Kontras, 2025).

Korban datang dari berbagai lapisan masyarakat. Petani dan buruh yang aktif di serikat tani dan buruh menjadi sasaran. Anggota Gerwani, Pemuda Rakyat, dan Barisan Tani Indonesia ditangkap dan dibunuh. Guru, seniman, dan intelektual yang dianggap simpatisan PKI kehilangan nyawa. Etnis Tionghoa, sering dituduh berafiliasi dengan Republik Rakyat Tiongkok, menghadapi prasangka dan kekerasan. Banyak warga sipil tewas karena fitnah atau sekadar berada di tempat yang salah pada waktu yang salah (BBC Indonesia, 2017; National Geographic Indonesia, 2021).

Keluarga korban masih menyimpan ingatan itu hingga kini. Ibu Ade Irma, misalnya, menuturkan, “Saya tidak pernah bisa melupakan malam itu. Rumah kami diserbu, dan putri saya tertembak di pangkuan saya sendiri. Rasa takut itu tidak hilang, meski waktu telah berjalan puluhan tahun.”

Sejarawan dan lembaga HAM memperkirakan korban tragedi ini mencapai 500.000 hingga 3 juta jiwa. Puluhan ribu keluarga kehilangan anggota tercinta. Desa-desa sunyi, rumah-rumah kosong, dan tanah tak berdosa menanggung duka. (Kontras, 2025)

Namun, peristiwa G30S bukan sekadar deretan angka atau nama yang tercatat sebagai Pahlawan Revolusi. Setiap nama yang hilang, setiap darah yang tumpah, menjadi saksi bisu sejarah kelam Indonesia. Luka kemanusiaan yang ditinggalkannya masih membekas di hati bangsa.

Referensi

  • Museum Sasmitaloka Jenderal Ahmad Yani. “Pahlawan Revolusi.” Disjarah TNI AD, 2021.

  • Kompas.com. “Pahlawan Revolusi Korban G30S PKI.” 20 Mei 2021.

  • Kontras. “Data Korban Tragedi 1965-1966.” 2025.

  • BBC Indonesia. “Tragedi 1965: Sejarah Kelam Pembunuhan Massal di Indonesia.” 2017.

  • National Geographic Indonesia. “Kisah Getir Korban Tragedi 1965.” 2021.***