Bahasa Indonesia itu kayak grup WhatsApp keluarga: enggak pernah sepi, selalu ada yang baru, kadang ribut, kadang absurd, tapi selalu hidup. Dan Oktober 2025 kemarin, semua kegaduhan kecil itu resmi dicatat negara.
_______________
Sebanyak 3.259 kata baru masuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI).
Totalnya sekarang: 210.595 entri.
Artinya: selama 2025 saja, ribuan cara baru kita menamai dunia — dari politik sampai perasaan, dari teknologi sampai tongkrongan — dianggap cukup penting untuk diabadikan.
Dari Warung Kopi Masuk Kamus Nasional
Jangan bayangkan kata-kata di KBBI itu lahir di ruang sunyi penuh buku tebal dan dosen berkacamata.
Banyak dari mereka lahir:
-
di obrolan warung kopi,
-
di komentar medsos,
-
di kelas, di kantor, di forum online,
-
bahkan di makian dan candaan.
KBBI tidak cuma menetapkan mana yang “benar”. Ia juga mencatat apa yang benar-benar dipakai orang.
Itu sebabnya ada label kecil seperti cak (cakapan), kas (kasar), atau rujukan ke bentuk baku. Kamus ini bukan polisi bahasa — lebih mirip arsip kehidupan.
Kepala Badan Bahasa, Hafidz Muksin, menyebut KBBI sebagai kamus yang “besar” bukan karena tebal, tapi karena luas: lintas zaman, lintas bidang, lintas ragam.
Bahasa resmi, bahasa santai, bahasa ilmiah, bahasa gaul — semuanya dicatat, diberi konteks, lalu disimpan sebagai memori kolektif.
Masuk Kamus Itu Tidak Instan Viral
Sebuah kata tidak otomatis masuk KBBI hanya karena trending.
Ia harus:
-
dipakai luas,
-
muncul berulang,
-
punya makna yang relatif stabil,
-
tidak berkonotasi negatif,
-
sesuai kaidah bahasa Indonesia,
-
dan… enak di telinga.
Itulah kenapa dari 255 ribu lebih usulan publik, baru sekitar 70 persen yang lolos penyuntingan. Sisanya? Masih disaring, diperbaiki, atau ditolak.
Jadi ya — masuk kamus itu bukan soal sensasi, tapi soal ketahanan makna.
Kamus Itu Cermin, Bukan Kitab Suci
Kalau kamu lihat daftar entri baru, kamu bisa menebak zamannya.
Ada istilah tentang:
-
politik dan demokrasi,
-
ekologi dan krisis iklim,
-
teknologi, data, dan kecerdasan buatan,
-
kesehatan mental dan tubuh,
-
identitas sosial,
-
sampai gaya hidup urban.
KBBI, tanpa sadar, jadi timeline kebudayaan.
Kalau suatu hari orang ingin tahu: “Apa yang dipikirkan orang Indonesia pada 2020-an?”, jawabannya ada di kamus — bukan cuma di arsip berita.
Yang Dijaga Bukan Cuma Kata, Tapi Makna
Di akhir pemutakhiran, Redaksi KBBI bahkan menyelipkan duka atas wafatnya salah satu validator mereka, Vita Luthfia Urfa.
Itu pengingat kecil bahwa kamus bukan mesin otomatis — ia dijaga oleh manusia yang telaten, sabar, dan setia pada detail.
Maka setiap kata yang masuk ke KBBI bukan sekadar entri. Ia adalah hasil kerja panjang, dialog sosial, dan kesepakatan diam-diam tentang apa yang layak diwariskan ke generasi berikutnya.
Bukan benda mati.
Ia bergerak. Ia tumbuh. Ia ribut. Ia berantakan. Ia rapi lagi. Ia menua dan muda sekaligus.
Dan setiap enam bulan sekali, kita berhenti sejenak, membuka kamus, lalu berkata:
“Oh… ternyata begini sekarang cara kita menyebut dunia.”
3.259 kata baru.
3.259 jejak kecil tentang bagaimana kita hidup — hari ini.***



Tinggalkan Balasan