Kota masa depan dunia membangun koridor satwa dan teknologi ramah lingkungan. Tapi di Kota Blitar, burung blekok Alun Alun malah dihalau dari ruang hidupnya. Benarkah ini wajah smart city masa depan?
Visi “Blitar Kota Masa Depan” yang ditetapkan pada hari jadi 1 April 2026, dibangun di atas gagasan kota cerdas, hijau, inklusif, dan harmonis dengan lingkungan. Pemerintah Kota Blitar bahkan menempatkan smart environment sebagai salah satu pilar utama pembangunan. Namun di tengah semangat tersebut, langkah penataan burung blekok atau kuntul di kawasan Alun-Alun Kota Blitar justru memunculkan pertanyaan besar tentang arah sebenarnya pembangunan kota ini.
Meski Pemkot Blitar menegaskan langkah itu bukan pengusiran, melainkan penataan secara humanis, publik tetap melihat adanya kontradiksi antara slogan kota masa depan dengan praktik penghalauan satwa dari ruang hidupnya.
Burung blekok bukan sekadar penghuni musiman. Kehadirannya telah menjadi bagian dari identitas ekologis Alun-Alun Kota Blitar selama bertahun-tahun. Dalam perspektif kota modern dunia, keberadaan satwa liar di ruang urban justru dipandang sebagai indikator lingkungan yang masih sehat.
Kota masa depan tidak hanya diukur dari digitalisasi layanan publik atau jaringan internet gratis di setiap RT, tetapi juga dari kemampuan menjaga keseimbangan antara manusia dan alam.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menyebut penggunaan “komplong” hanya bertujuan mendorong burung berpindah secara alami ke kawasan Ecopark Joko Pangon. Namun substansinya tetap sama: mengurangi keberadaan burung di pusat kota karena dianggap mengganggu kebersihan dan kenyamanan manusia.
Kota Masa Depan
Pada titik ini muncul persoalan mendasar. Apakah kota masa depan hanya dirancang nyaman bagi manusia, tetapi tidak ramah terhadap ekosistem?
Kota-kota masa depan dunia justru mengambil jalan berbeda. Mereka tidak mengusir satwa liar, melainkan membangun sistem koeksistensi antara manusia dan alam. Singapura, misalnya, membangun Eco-Link@BKE, jembatan ekologis di atas jalan tol yang dirancang menyerupai habitat alami agar satwa dapat bermigrasi dengan aman tanpa terganggu kendaraan. Infrastruktur ini bahkan tertutup bagi manusia demi menjaga kenyamanan hewan liar.
Singapura juga memasang kamera berbasis kecerdasan buatan (AI) untuk memantau pergerakan satwa liar di kawasan urban. Ketika ada hewan mendekati permukiman, petugas tidak mengusir secara kasar, melainkan menggiringnya kembali ke habitat hijau menggunakan pendekatan alami berbasis umpan dan aroma predator.
Sementara di Zurich, Swiss, konsep kota masa depan diterjemahkan melalui arsitektur ramah satwa. Gedung-gedung tinggi diwajibkan menggunakan kaca anti-tabrakan burung agar tidak menyebabkan kematian massal satwa akibat benturan fasad bangunan. Kota itu juga menyediakan mikrohabitat dan “hotel serangga” untuk menjaga rantai ekosistem penyerbuk di tengah kepadatan urban.
Songdo di Korea Selatan bahkan mempertahankan kawasan lahan basah sebagai jalur migrasi burung air internasional. Pemerintah kota mengatur tingkat pencahayaan gedung dan lampu jalan pada musim migrasi agar navigasi burung tidak terganggu oleh polusi cahaya.
Filosofi kota masa depan di berbagai negara maju jelas berbeda dengan pendekatan sterilisasi ruang publik. Mereka memandang satwa bukan sebagai gangguan, melainkan bagian penting dari keseimbangan kota dan indikator kesehatan lingkungan.
Sebaliknya, pendekatan yang terjadi di Blitar masih tampak reaktif. Ketika koloni blekok menghasilkan kotoran dan memicu keluhan warga, solusi yang dipilih adalah penghalauan melalui bunyi-bunyian dan penataan populasi. Cara pandang ini menempatkan estetika dan kenyamanan manusia sebagai prioritas tunggal, sementara keberadaan satwa dianggap persoalan yang harus disingkirkan.
Padahal, kota masa depan semestinya hadir dengan solusi ekologis yang lebih kreatif. Penataan kawasan bisa dilakukan melalui rekayasa vegetasi, pengaturan titik bertengger alami, desain sanitasi modern, hingga pengelolaan ruang hijau yang memungkinkan manusia dan satwa berbagi ruang secara sehat.
Keberpihakan Terhadap Lingkungan
Blitar selama ini aktif membangun citra smart city melalui digitalisasi layanan administrasi, Internet Keren, hingga penguatan smart governance. Namun kecanggihan teknologi akan kehilangan ruh jika sensitivitas ekologis tidak ikut tumbuh.
Burung blekok sesungguhnya dapat menjadi aset ekologis dan wisata edukasi kota. Banyak kota di dunia justru mempromosikan keberadaan satwa liar sebagai simbol keberhasilan menjaga keseimbangan lingkungan urban. Kehadiran mereka menjadi penanda bahwa pembangunan tidak sepenuhnya memutus hubungan manusia dengan alam.
Kota masa depan bukan sekadar kota dengan tumbuhnya gedung pencakar langit, aplikasi digital, jaringan internet cepat, atau layanan birokrasi berbasis AI. Kota masa depan adalah kota yang mampu menciptakan harmoni antara teknologi, manusia, dan makhluk hidup lain yang berbagi ruang yang sama.
Karena itu, jika visi “Blitar Kota Masa Depan” ingin benar-benar bermakna, maka keberpihakan terhadap lingkungan tidak cukup berhenti pada slogan pembangunan hijau. Ia harus diwujudkan dalam kebijakan nyata yang memandang satwa sebagai bagian dari ekosistem kota, bukan sekadar objek yang dipindahkan ketika mulai dianggap mengganggu kenyamanan manusia.***



Tinggalkan Balasan