
Edisi ketiga artikel Putera Sang Fajar. Pada sambungan ini, Bung Karno menyinggung kebencian sang ibu terhadap penjajah Belanda. Dia sempat menuturkan bahwa keluarga dari ibu ditangkap oleh Belanda. Bagaimana cerita lengkapnya, simak sampai habis lanjutan artikel Putera Sang Fajar di bawah ini.
MEREKA mengundangnya ke sebuah kapal perang untuk berunding. Begitu sampai di atas kapal, Belanda menahannya secara paksa, lalu berlayar dan menjebloskannya ke tempat pembuangan. Setelah Belanda menduduki istananya dan merampas miliknya, keluarga ibu jatuh melarat. Karena itu kebencian ibu terhadap Belanda tak habis‐ habisnya dan ini disampaikannya kepadaku.
Di tahun 1946, ketika itu umur ibu sudah lebih dari 70 tahun, Republik kami yang masih muda terlibat dalam pertempuran‐pertempuran jarak dekat dengan musuh. Dalam suatu pertempuran, pasukan kami berkumpul di pekarangan belakang rumah ibu di Blitar. Kisah ini kemudian diceritakan oleh pejuang gerilya kepadaku, “Di tempat ini keadaan gerakan kami tenang sekali. Kami semua tiarap menunggu. Rupanya ibu tidak mendengar apa‐apa dari pihak kita. Tidak ada tembakan, tidak ada teriakan. Dengan mata yang bernyala‐nyala beliau keluar mendatangi kami, “Kenapa tidak ada tembakan?” Kenapa tidak bertempur? Apa kamu semua penakut?.
Kenapa kamu tidak keluar menembak Belanda, Hayo, terus, semua kamu, keluar dan bunuh Belanda‐ Belanda itu!'” Pihak bapakpun adalah patriot‐patriot ulung. Nenek dari nenek bapak kedudukannya dibawah seorang Puteri, namun dia seorang pejuang puteri di samping pahlawan besar kami, Diponegoro.



Tinggalkan Balasan