Banyak surat kabar yang tidak dibolehkan terbit, kecuali surat kabar yang memang diusahakan oleh pemerintah, karena semua berita yang akan disiarkan harus melewati proses sensor terlebih dahulu. Hal lain yang tidak diperbolehkan ialah mengkritik atau mengecam pemerintah dan tentara Jepang. Siapapun yang berani menentang, mencela, dan melawan kebijaksanaan pemerintah Dai Nippon, akan berhadapan dengan  tentara Jepang (Anhar, 2021: 24).

Pemerintah Jepang mulai memikirkan pertahanan wilayah Hindia Belanda yang saat itu telah dikuasai. Dalam rangka menahan dan menghambat gerakan Sekutu, pihak Jepang sangat membutuhkan partisipasi dan bantuan aktif dari rakyat Indonesia. Agar dapat mempertahankan kepentingannya di Indonesia, Jepang merencanakan pembentukan suatu pasukan teritorial, yaitu tentara pembela di garis belakang atau garis kedua yang anggotanya adalah para pemuda Indonesia di bawah pimpinan dan mendapat bimbingan tentara Jepang. Hal diharapkan dapat membantu tentara Jepang untuk menghemat tenaga pasukannya sendiri guna kepentingan perang (Anhar, 2021: 24).

Untuk itu dibentuklah tentara PETA agar dapat memenuhi tuntutan perang pihak Jepang melawan Sekutu. Bagai para pemuda Indonesia, pembentukan tentara PETA sesuai dengan aspirasi rakyat Indonesia yang didorong oleh rasa kebangsaan dan hasrat kemerdekaan untuk memiliki tentara sendiri. Pada awal tahun 1943, latihan-latihan dan pendidikan kemiliteran mulai diselenggarakan Pemerintah Jepang untuk rakyat dan para pemuda Indonesia. Selain PETA beberapa organisasi militer juga dibentuk oleh pemerintah Jepang, antara lain Keibodan (Barisan Pembantu Polisi), Seinendan (Barisan Pemuda), dan Heiho (Pembantu Prajurit) (Anhar, 2021: 26-30).

Situasi dan kondisi pasukan Jepang pada saat itu semakin terdesak di setiap medan pertempuran baik di kawasan Pasifik maupun di Filipina. Pasukan Jepang mulai merasa khawatir terhadap keberadaannya di Indonesia karena mulai kesulitan mengendalikan pasukan dan barisan militer yang telah dibentuknya (Setiono, 2008: 540).

Situasi tersebut ditambah kebencian Supriyadi kepada Jepang yang sudah memuncak mendorongnya untuk melancarkan gerakan. Pada tanggal 14 Februari 1945 tentara PETA di Blitar melakukan pemberontakan terhadap tentara pendudukan Jepang di bawah pimpinan Supriyadi (Aning, 2005: 215). Mereka berhasil menyerang gudang senjata dan membunuh beberapa orang serdadu Jepang. Pemberontakan itu timbul karena Suprijadi dan pasukannya sudah tidak tahan melihat kekejaman Jepang yang terus memaksa rakyat menyerahkan berasnya, padahal rakyat sudah menderita kelaparan (Setiono, 2008: 540).

Supriyadi sebagai perwira berpangkat Shodancho berusia 22 tahun yang memimpin pasukan di bawah komandonya telah menyebabkan timbulnya banyak korban di pihak militer Jepang. Perlawanan tersebut juga mengakibatkan beberapa pasukan Supriyadi dipenjara dan dihukum mati (Aning, 2005: 215). Perlawanan PETA di bawah komando Supriyadi bermula ketika para buruh di sekitar Blitar dimobilisasi oleh tentara Jepang untuk membangun pangkalan. Para buruh tersebut banyak yang sakit karena terjangkit malaria dan disentri disebabkan buruknya perlakukan Jepang.

Mereka tidak mendapat cukup makanan, apalagi perlindungan kesehatan. Karena banyak pekerja yang sakit dan bahkan meninggal, maka Jepang mengganti tenaga kerja dengan perempuan dan anak-anak secara paksa. Hal ini menimbulkan ketidakpercayaan rakyat terhadap “janji-janji kemerdekaan” yang diberikan Jepang semakin besar. Apa yang telah dilakukan oleh tentara PETA, khususnya Resimen Blitar, tidak sebanding dengan perlakuan Jepang pada penduduk Blitar (Satoshi, 2018).

Perlawanan yang dilakukan Supriyadi sebenarnya telah melalui perencanaan yang panjang, namun ternyata tidak berjalan dengan baik. Supriyadi merencanakan perlawanan tersebut pada bulan Februari 1944, diawali dengan bergeraknya Supriyadi dan pasukannya ke Malang untuk menduduki sebuah stasiun radio yang sedianya digunakan untuk mengumumkan pemberontakan PETA melawan Jepang. Namun demikian, rencana Supriyadi dicurigai pihak Jepang. Hal ini disebabkan pembatalan latihan besar yang melibatkan 10 batalyon PETA di kota Tuban oleh Supriyadi dan pasukannya (Palmos, 2016: 107).