Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Blitar menyiapkan empat lokasi Salat Idul Fitri yang digelar pada Rabu (10/4/2024). Foto:Canva

BLITAR, iNiBlitar.com — Muhammadiyah sudah menetapkan 1 Syawal 1445 hijriah jatuh pada Rabu, 10 April 2024. Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Blitar sudah menyiapkan empat lokasi untuk Salat Idul Fitri. Umat Islam yang akan mengikuti Salat Ied di Tanah Lapang diminta menyiapkan sajadah atau tikar.

Menurut surat yang diterima oleh redaksi iNiBlitar.com, Salat Idul Fitri akan dilaksanakan pada empat tempat yang mewakili tiga kecamatan yang ada di Kota Blitar.

Lokasi Salat Ied Rabu 10 April 2024 di Kota Blitar.

  1. Tenis Agung  Lapangan Jl Ir. Sukarno, Kota Blitar. Khatib/Imam Drs. H.N.Taufiq, M.Ag. Penyelenggara: Takmir  Masjid At-Taqwa, Muhammadiyah Jl. Cokroaminoto, Kota Blitar
  2. Halaman POLKESMAJl  Dr. Sutomo 48 Kota Blitar. Khatib/Imam Ustadz Thoriq Taufiq dari Kota Batu.  Penyelenggara: PCM Sanan Wetan, Kota Blitar
  3. Halaman Masjid At-Tawakkal Kel. Blitar Jalan Joko Kandung. Khatib/Imam Ustad Mahmud dari Blitar. Penyelenggara: PCM Sukorejo Kota Blitar
  4. Halaman Masjid Nurul Huda Jalan Kalimas Kepatihan. Khatib/Imam Dr Ropingi El Ishaq M.Si, Dosen IAIN Kediri. Penyelenggara:PCM Sukorejo, Kota Blitar

Amalan Sunnah Sebelum dan Sesudah Salat Ied

Melansir laman UMJ,  ada beberapa amalan-amalan yang disunahkan sebelum dan sesudah menunaikan Salat Ied di lapangan terbuka, antara lain:

  1. Mandi dan Menyucikan Diri
    Sebelum melaksanakan Salat Ied hendaknya mandi dan menyucikan diri terlebih dahulu. Jangan lupa untuk berwudhu sebelum berangkat menuju tempat salat. Terkadang seseorang lupa untuk mengambil air wudhu terutama wanita yang memakai make-up setelah mandi, dikarnakan wudhu adalah salah satu syarat sahnya salat.
  2. Memakai Pakaian Terbaik
    Saat hendak melaksanakan Salat Ied, sebaiknya kita menghias diri dan memakai pakaian terbaik. Pria juga dianjurkan untuk memakai wangi-wangian. Sebagaimana yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim bahwa “Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa keluar ketika Shalat Idul Fithri dan Idul Adha dengan pakaiannya yang terbaik”.
  3. Makan Sebelum Salat Idul Fitri
    Sebelum melaksanakan Salat Ied, dianjurkan untuk makan di pagi hari dan hal inilah yang membedakan Shalat Idul Fitri dengan Shlat Idul Adha di mana saat sebelum Salat Idul Adha kita tidak dianjurkan untuk makan. Hal ini dimaksudkan bahwa pada hari Raya Idul Fitri umat Islam tidak lagi melakukan ibadah puasa seperti sebelumnya pada bulan Ramadan.

Sebagaimana hadis Rasulullah ﷺ

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لاَ يَغْدُو يَوْمَ الْفِطْرِ حَتَّى يَأْكُلَ وَلاَ يَأْكُلُ يَوْمَ الأَضْحَى حَتَّى يَرْجِعَ فَيَأْكُلَ مِنْ أُضْحِيَّتِهِ

“Rasulullahﷺ biasa berangkat Salat Ied pada hari Idul Fitri dan beliau makan terlebih dahulu. Sedangkan pada hari Idul Adha, beliau tidak makan lebih dulu kecuali setelah pulang dari Salat Ied baru beliau menyantap hasil qurbannya.”

  1. Berjalan kaki dan melewati jalan yang berlainan
    Yang dimaksud dengan menempuh jalan yang berlainan adalah saat pergi dan pulang salat Idul Fitri hendaknya kita melewati jalan yang berbeda hal ini dimaksudkan supaya saat pergi maupun pulang kita lebih banyak bertemu dengan orang-orang yang juga melaksanakan salat Ied dan saling bersilaturahmi. Pergi menuju tempat salat Ied juga dianjurkan untuk berjalan kaki daripada menggunakan kendaraan kecuali jika ada halangan atau hajat. Sebagaimana hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Jabir :

كَانَ النَّبِىُّ – صلى الله عليه وسلم – إِذَا كَانَ يَوْمُ عِيدٍ خَالَفَ الطَّرِيقَ

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ketika shalat ‘ied, beliau lewat jalan yang berbeda ketika berangkat dan pulang.”

Dan juga hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Umar:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يَخْرُجُ إِلَى الْعِيدِ مَاشِيًا وَيَرْجِعُ مَاشِيًا

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berangkat shalat ‘ied dengan berjalan kaki, begitu pula ketika pulang dengan berjalan kaki”.

  1. Mengumandangkan Takbir
    Mengumandang takbir atau takbiran pada hari raya Idulfitri adalah sesuatu yang disyariatkan oleh agama. Ada dua pendapat dari ulama mengenai waktu dimulainya takbiran, yaitu dimulai sejak malam setelah magrib satu hari sebelum salat Idul fitri dan saat pagi hari ketika menuju salat Idul fitri.

Berbeda halnya dengan Idul adha, kumandang takbir juga digemakan saat hari tasrik hingga 13 Dzulhijah. Pada Idulfitri, tidak ada lagi takbir setelah salat selesai dilakukan.

Muhammadiyah sendiri dalam situs resminya menjelaskan jika lafaz takbir Idul Fitri yang sesuai dengan tuntunan Rasulullah Saw adalah sebagai berikut.

a. Lafaz takbir Idulfitri seperti disandarkan kepada Ibn Mas’ud, ‘Umar ibn al-Khattab, dan ‘Ali ibn Abi Thalib, di antaranya adalah sebagai berikut:

اَللهُ أًكْبَرُ اَللهُ أَكْبَرُ، لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَاللهُ أَكْبَرُ، اَللهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ اْلحَمْدُ.

Allahu akbar allahu akbar, la ilaha illallah wallahu akbar alllahu akbar walillahil hamd”.

Artinya: “Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, Tiada Tuhan melainkan Allah dan Allah Maha Besar, Allah Maha Besar, dan bagi Allah-lah segala puji”.

Ucapan Allahu Akbar dalam takbir salat Idul Fitri dalam redaksi hadist di atas jelas hanya diucapkan dua kali, tidak tiga kali.