
Sukarno, Sutan Sjahrir dan Haji Agus Salim dalam tahanan Belanda di Parapat, 1949. Sebelum ke Parapat, ketiganya ditawan di pesanggrahan Desa Lau Gumbang, Brastagi, Tanah Karo. Sumber: Nederlands Instituut voor Militaire Historie/historia.id
BLITAR, iNiBlitar.com — Persinggungan antara Sukarno dengan Muhammadiyah pertama kali terjadi saat ia mengontrak di rumah tokoh Sarekat Islam, Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto di Jalan Peneleh VII/29-31, Surabaya, Jawa Timur. Menurut kesaksian pribadinya, pertemuan dengan pendiri Muhammadiyah, Kiai Ahmad Dahlan, terjadi saat Sukarno berusia 15 tahun, sekitar tahun 1916, ketika Kiai Ahmad Dahlan melakukan dakwah di Surabaya. Dari pertemuan tersebut, Sukarno merasa terpanggil untuk mengikuti ajaran-ajaran Muhammadiyah.
Keterlibatan Sukarno dengan Muhammadiyah semakin intens ketika ia dipindahkan ke Bengkulu dari Ende pada tanggal 14 Februari 1938. Di Bengkulu, Sukarno aktif sebagai Ketua Majelis Pengajaran Muhammadiyah dan Direktur Sekolah Menengah Muhammadiyah.
Seperti dilansir laman Muhammadiyah.or.id, salah satu catatan menarik terjadi saat Sukarno memprotes penggunaan tabir dalam sebuah rapat Muhammadiyah di Bengkulu pada bulan Januari 1939. Protes ini diwujudkan dengan tindakan walk out (keluar) dari rapat tersebut. Sukarno menganggap penggunaan tabir sebagai simbol dari pandangan Islam yang konservatif, yang menurutnya bertentangan dengan semangat kemajuan.
Setelah insiden tersebut, Sukarno bertemu dengan tokoh-tokoh Muhammadiyah lainnya, seperti Haji Syudjak dan Samaun Bakri, yang setuju dengan pandangannya. Haji Syudjak bahkan menyatakan bahwa tabir tidak diperlukan dalam rapat Muhammadiyah, sejalan dengan pandangan Kiai Ahmad Dahlan.
Protes Sukarno terhadap penggunaan tabir sebenarnya tercermin dari harapannya agar Muhammadiyah menjadi motor perubahan dalam membebaskan umat Islam dari tradisi konservatif yang menghambat kemajuan. Dalam sebuah wawancara dengan surat kabar Antara yang dimuat di surat kabar Pandji Islam pada tahun yang sama, Sukarno mengungkapkan pandangannya, menyebut tabir sebagai simbol dari penindasan terhadap wanita, dan menegaskan bahwa menghapuskan penindasan tersebut adalah tugas sejarah yang penting.
Dengan demikian, protes Sukarno terhadap penggunaan tabir di rapat Muhammadiyah bukan sekadar tentang masalah kecil, tetapi tentang prinsip yang lebih besar dalam perjuangan untuk memajukan masyarakat dan membebaskan kaum perempuan dari penindasan.
Tak cukup dengan uraian dari Haji Syudjak yang dikenal sebagai periwayat KH. Ahmad Dahlan, Sukarno meminta ketegasan soal hukum Islam dan pandangan Muhammadiyah ke tokoh Muhammadiyah lain yang juga sahabatnya, Kiai Haji Mas Mansur.
Sukarno menganggap perintah Allah menundukkan pandangan (ghaddul bashar) sudah cukup sebagai pedoman dalam relasi muamalah laki-laki dan perempuan sehingga tidak perlu tambahan seperti tabir yang justru membuat perempuan terkungkung.



Tinggalkan Balasan