LaNyalla menegaskan bahwa percepatan pembangunan JLS di Jatim penting untuk mengurangi disparitas antara kawasan utara dan selatan Jatim yang masih cukup besar. Menurut data Bappeda Jatim, wilayah selatan Jatim hanya menyumbang sekitar 16 persen Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Jatim pada tahun 2023, sementara wilayah utara menyumbang sekitar 40 persen. Ini menunjukkan bahwa wilayah selatan Jatim memiliki potensi ekonomi yang besar, terutama dalam sektor pertanian, perkebunan, dan pariwisata.

Dalam konteks ini, koordinasi yang baik antara Pemerintah Kabupaten, Pemerintah Provinsi Jatim, dan pemerintah pusat dalam hal pembebasan lahan menjadi krusial. LaNyalla berharap bahwa proyek JLS Jatim harus menjadi prioritas bagi Pemprov Jatim dan Pemerintah Kabupaten/Kota di bawahnya, terutama dengan adanya kepemimpinan baru yang akan terpilih pada akhir tahun ini.

Jalan Pansela secara keseluruhan melintasi lima provinsi, yaitu Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta, dan Jawa Timur. Di Jawa Timur sendiri, JLS memiliki panjang sekitar 628 kilometer dan akan menghubungkan delapan kabupaten, yaitu Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Malang, Lumajang, Jember, dan Banyuwangi.