Penerapan ART di Kota Zhuzhou, Provinsi Hunan, China, Tahun 2018. ART bisa menjadi solusi bagi pemerintah kota/kabupaten yang APBD-nya masih kecil tapi ingin menghidupkan kembali transportasi publik. CRRC /X/urban-transport-magazine

BLITAR, iNiBlitar.com — Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memutuskan untuk mengadopsi Autonomous Rail Rapid Transit (ART) sebagai salah satu solusi transportasi publik masa depan. Keberadaan transportasi publik tanpa membangun rel ini diharapkan menjadi solusi bagi daerah-daerah dengan APBD terbatas.

Transportasi publik di Kota dan Kabupaten Blitar terus mengalami penurunan perhatian dari pemerintah daerah. Seiring dengan kebijakan kredit sepeda motor yang semakin mudah, angkutan umum semakin tergeser. Pada masa lalu, terdapat angkutan umum bernama mikrolet yang menghubungkan Kota Blitar dengan kota-kota kecamatan di sekitarnya.

Angkutan berwarna kuning ini menjadi pilihan utama bagi warga yang ingin menuju ke kawasan Candi Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terutama para pelajar pada tahun 1990-1995. Selain itu, terdapat pula jalur lain yang menghubungkan Kota Blitar dengan berbagai wilayah, seperti Srengat, Kediri, Ngantru (Tulungagung), Selorejo, Kesamben, dan Pantai Tambak.

Sayangnya, sistem transportasi publik di Kota/Kabupaten Blitar belum dihidupkan kembali. Padahal, teknologi modern seperti Autonomous Rail Rapid Transit (ART) dapat menjadi solusi untuk menghidupkan kembali sistem transportasi tersebut.

Sistem ART, yang dikembangkan oleh Cina, menggunakan teknologi relasi, tanpa karet, dan dipandu secara elektronik. CRRC Zhuzhou, perusahaan Cina, telah berhasil mengoperasikan sistem ART sejak Mei 2018 di beberapa kota di Cina, seperti Zhuzhou, Yibin, Yancheng, dan Yongxiu.

Pada 21 Maret 2023, sistem ART dibuka sebagai jalur demonstrasi di Xi’an, Cina Barat Laut, di Area Pengembangan Baru Xixian. Jalur ini menawarkan layanan antara Stasiun Doumen dan Stasiun Happy Valley dengan interval 10-15 menit, dan saat ini, layanan naik kereta ART ini gratis.

Di luar negeri, beberapa negara juga menunjukkan minat terhadap sistem ART. Abu Dhabi telah melakukan uji coba dengan menerima dua kendaraan ART, sementara Kota Kuching di Malaysia berencana untuk membeli 38 kendaraan ART yang menggunakan penggerak hidrogen.

Di Indonesia, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa pembangunan ART lebih rasional karena sesuai dengan ketersediaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit (LRT) dianggap tidak memungkinkan karena memerlukan anggaran yang jauh lebih besar.

Oleh karena itu, Pemkot Surabaya berencana untuk merealisasikan pembangunan ART dengan penggerak magnet. Presiden Joko Widodo juga menawarkan ART sebagai alternatif baru untuk transportasi massal di Indonesia.