
KOTA BLITAR, iNiBlitar.com — Kota Blitar telah menginjak usia 118 tahun –1 April 2024–, kini berada pada titik balik penting dalam menentukan bakal calon wali kota yang akan menentukan arah masa depan Bumi Bung Karno. Dikelilingi oleh kota-kota industri seperti Tulungagung dan Kediri serta pusat pendidikan Malang, Kota Blitar dipandang sebagai kota yang strategis dengan infrastruktur yang terus berkembang, termasuk pembangunan Bandara Internasional Dhoho Kediri yang berjarak hanya satu setengah jam dari pusatnya.
Permasalahan yang muncul adalah identitas kota ini: apakah akan menjadi pusat pendidikan, destinasi pariwisata, pusat kebudayaan, pusat perdagangan, kota industri, atau kota kreatif? Pentingnya menentukan arah ini semakin terasa seiring munculnya bakal calon wali kota pada pemilihan kepala daerah (pilkada) 2024.
Menurut Upi Suprianto, Koordinator Jejaring Kota/Kabupaten Kreatif Jawa Timur dan anggota Komite Ekonomi Kreatif Jawa Timur, Blitar memiliki potensi besar sebagai kota kreatif. Dengan luas wilayah 33 km persegi, Blitar merupakan kota terbesar kedua di Jawa Timur dengan berbagai potensi UMKM dan ekosistem kreatif yang berkembang.
“Secara historis, Blitar memiliki daya tarik dengan keberadaan makam Bung Karno dan Monumen Soeprijadi. Tinggal bagaimana kita mengembangkannya,” ujar Upi kepada iNiBlitar, Selasa (25/6/2024). Dia menambahkan bahwa dengan adanya fasilitas seperti hotel bintang 3, Blitar juga memiliki potensi sebagai tuan rumah untuk acara MICE (Meetings, Incentives, Conferencing, Exhibitions) dan berbagai event skala besar.
Sebagai bahan informasi, MICE bisa diartikan potensi sektor pariwisata yang mencakup berbagai acara dan kegiatan bisnis yang melibatkan banyak orang dengan kepentingan sama yang berkumpul di suatu tempat.
Ada banyak pertimbangan suatu tempat layak disebut destinasi tujuan MICE skala internasional. Hal tersebut merujuk pada faktor akomodasi, infrastruktur, aksesibilitas, hingga daya tarik wisata yang memadai di daerah tersebut.
Melihat faktor-faktor tersebut, tentunya banyak daerah di Indonesia layak menjadi destinasi tujuan MICE internasional. Mengingat, Indonesia memiliki fasilitas penginapan, transportasi, hingga gedung pertemuan berstandar internasional yang komplet.
Namun, tantangan utama saat ini adalah menemukan pemimpin yang tepat untuk merealisasikan visi besar ini. “Kita membutuhkan seorang wali kota yang bersemangat untuk menggerakkan warga kota mengejar kemajuan dan meraih kesetaraan dengan kota-kota besar lainnya,” tambah Upi.
Salah satu figur yang menarik perhatian adalah Hengky Kurniawan, yang memiliki pengalaman sebagai pemimpin di Bandung Barat, Jawa Barat, dan pemahaman mendalam tentang dinamika kota wisata. Hengky diharapkan dapat membawa Kota Blitar menuju masa depan yang lebih maju.
“Dalam konteks politik modern, pemahaman tentang media sosial menjadi kunci penting. Generasi muda atau Gen Z memiliki pengaruh besar dalam dinamika politik, seperti yang terlihat dalam pemilu sebelumnya. Blitar perlu memiliki strategi yang cerdas untuk berinteraksi dengan generasi ini,” jelas Upi.
Pilkada 2024 yang akan dilaksanakan pada November 2024, akan menjadi momentum penting bagi Kota Blitar untuk menetapkan visi jangka panjang yang jelas. Selain mengatasi tantangan infrastruktur dan ekonomi, pemilihan kepala daerah kali ini juga menjadi ujian bagi Blitar dalam menghadapi dinamika politik dan sosial yang semakin kompleks.



Tinggalkan Balasan