Ploso Tidak Jauh dari Gunung Kelud
Data Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857 dan buku The Geology of Indonesia, Volume 1, Part 1, Edisi 2, karya Reinout Willem van Bemmelen semestinya lebih valid secara akademik, karena waktu penyusunannya lebih dekat dengan peristiwa, dibanding buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian ESDM pada tahun 2011.
Dengan demikian, data geolog Belanda tersebut mengonfirmasi jika Sukarno lahir pada tahun 1902. Sebab, pada tahun tersebut, Soekeni, ayah Sukarno, sedang bertugas mengajar di di Desa Ngelo—sekarang bernama Desa Rejoagung—Kecamatan Ploso, Jombang.
Perihal Soekeni tinggal di Ploso pada tahun tersebut terkonfirmasi oleh banyak saksi dan dokumen surat penugasannya dari Pemerintah Kolonial Belanda.
Jombang tentunya juga terdampak letusan Kelud pada tahun 1902 tersebut. Pasalnya, secara geografis, jaraknya lebih dekat dari Kelud daripada Surabaya. Sementara berbagai laporan ilmiah sepakat jika dampak letusan kali itu sangat kuat dan luas, hingga ke Surabaya di timur dan Pekalongan, Jawa Tengah, di bagian barat.
Jika Surabaya dan Pekalongan saja kena dampak, apalagi Jombang? Barangkali karena itulah Sukarno bercerita, “Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus,” kepada Cindy Adams.
Terkait sosok Soemodihardjo, yang menurut laporan Kompas pada tahun 1970 menjadi saksi kelahiran Sukarno di Surabaya, Samudra Fakta mendapatkan data tentang nama yang sama, namun statusnya berbeda dari versi Kompas.



Tinggalkan Balasan