Dokumentasi letusan Gunung Kelud pada awal abad ke-20, yang disebut Sukarno seiring dengan kelahirannya. (Foto: Wikipedia Common)

JOMBANG, iNiBlitar.com —Gunung Kelud mengamuk dahsyat di suatu malam yang kelam pada awal abad ke-20. Langit Jawa Timur dipenuhi arang dan abu, menciptakan pemandangan seolah kiamat sedang terjadi.  Di tengah kegelapan itu, lahirlah seorang bayi yang diberi nama Kusno, yang kelak dikenal sebagi Sukarno, Sang Proklamator Kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Letusan Kelud yang dahsyat ini, disebut Sukarno sebagai penanda kelahirannya, yang secara secara ilmiah terbukti terjadi pada tahun 1902. Namun, sebagian besar terlanjur percaya bahwa letusan dahsyat Gunung Kelud tersebut terjadi pada tahun 1901, sehingga para sejarawan menyimpulkan Sukarno lahir pada tahun tersebut.

“Masih ada pertanda lain ketika aku dilahirkan. Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus,” demikian Bung Karno berkisah kepada Cindy Adams, yang kemudian diabadikan oleh Adams dalam Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia (1966).

“Orang yang percaya kepada tahayul meramalkan, ini adalah penyambutan terhadap bayi Soekarno,” lanjut Bung Karno. Sukarno juga mengisahkan bahwa kondisi lingkungan di sekitar gunung begitu gelap. Langit terlihat hitam, bahkan hingga jarak yang jauh dari Gunung Kelud.

“Raksasa Gunung Kelud, gunung berapi di Blitar, mencari saat itu untuk menunjukkan kemurkaan Dewa-dewa. Langit menjadi hitam oleh arang dan abu bermil-mil jauhnya,” ujarnya.

“Di mana-mana ledakan lahar. Daerah itu diselubungi oleh asap, api, dan racun. Dengan kekuatan yang hebat lahar yang mendidih-didih mencurah menuruni lereng gunung ke tempat yang lebih rendah dan menggenang di sana, antara Blitar dan Wlingi,” kenang Bung Karno seperti dilansir laman Samudra Fakta.

Pernyataan Sukarno mengenai letusan Gunung Kelud inilah yang memunculkan keyakinan dari sebagian sejarawan bahwa dia lahir di Blitar, Jawa Timur, pada 6 Juni 1901. Sementara sebagian lainnya yakin dia lahir di Surabaya, di tahun dan tanggal yang sama.

Barangkali keyakinan Kelud meletus pada tahun 1901 tersebut berdasarkan data dalam buku Data Dasar Gunung Api Indonesia, yang diterbitkan oleh Pusat Penelitian dan Pengembangan (Puslitbang) Geologi Kementerian Energi, Sumber Daya Alam, dan Mineral (ESDM), tahun 2011.

Buku tersebut mencatat jika Gunung Kelud mengalami erupsi selama sekitar dua jam pada tengah malam, 22 – 23 Mei 1901. Letusan dilaporkan terus meningkat pada pukul 03.00 dinihari.

Bunyi letusan dilaporkan terdengar sampai Pekalongan, Jawa Tengah. Dampak letusan itu sampai hingga Surabaya—tempat di mana Soekeni, ayah Sukarno, dan keluarganya tinggal pada pertengahan tahun 1901 itu.

Sementara itu, Kompas, dalam edisi 5 Oktober 1970, melaporkan bahwa mereka mendapatkan keterangan seseorang bernama Soemodihardjo, yang disebut sebagai paman Sukarno. Kompas menyebutnya sebagai adik ayah Sukarno, Soekeni Sosrodihardjo.

Kompas melaporkan bahwa Soemodihardjo menerangkan jika kemungkinan Sukarno lahir beberapa hari sebelum Gunung Kelud meletus pada 23 Mei 1901—sebagaimana data yang diakui oleh Kementerian ESDM.

Sebagaimana ditulis Kompas, pada sekitar Mei 1901, Soemodihardjo sedang bersekolah di kweekschool—setingkat sekolah dasar—Probolinggo ketika Kelud meletus. Akibat letusan itu, sebagaimana ditulis Kompas, dia diperbolehkan pulang ke Surabaya.

“Ternyata di rumah itu (yang menurut Kompas di Surabaya) ipar saya, Idayu, yang berasal dari Bali, baru melahirkan seorang anak laki-laki. Waktu tiba di rumah kakak saya itu, bayinya berusia 5 atau 6 hari,” demikian kata Soemodihardjo versi Kompas.

Sekitar dua pekan pasca-letusan Gunung Kelud, tepatnya pada 6 Juni 1901, Soemodihardjo versi Kompas melanjutkan, lahirlah seorang bayi laki-laki mungil bernama Koesno. Data-data inilah yang membuat sejarawan yakin bahwa Sukarno lahir di Surabaya atau Blitar, pada 6 Juni 1901.

Benarkah Gunung Kelud Erupsi Dahsyat pada Tahun 1901?

Sementara itu, menurut penelusuran Samudra Fakta, ada data yang ‘agak lain’ terkait tahun letusan Kelud di awal abad ke-20 ini. Data tersebut tersaji dalam buku berjudul The Geology of Indonesia, Volume 1, Part 1, Edisi 2, karya seorang ahli geologi Belanda bernama Reinout Willem van Bemmelen.

Buku ini diterbitkan ulang oleh Penerbit Martinus Nijhoff di tahun 1970. Pada halaman 10 buku tersebut tertulis bahwa Gunung Kelud pernah meletus pada 1902.

Sebagai informasi, Van Bemmelen adalah ahli geologi Belanda yang banyak melakukan survei awal terhadap vulkanisme dan tektonisme di Indonesia. Karyanya banyak menjadi acuan para ahli geologi setelahnya, termasuk ahli-ahli geologi Indonesia saat ini.

Perihal Gunung Kelud meletus tahun 1902 juga dicatat oleh dua ilmuwan bernama David Eliot Brody—seorang pengacara ahli dalam bidang hukum sumber daya alam dan lingkungan dari Denver,Colorado, Amerika Serikat (AS)—dan Arnold R. Brody P.hD, pakar ilmu patologi, biologi sel, dan kesehatan lingkungan dari Tulane University School of Medicine, News Orlean, Los Angeles, AS.

Keduanya mencatat bahwa Gunung Kelud meletus pada tahun 1902 pada halaman 247 buku mereka yang berjudul The Science Class You Wish You Had (Revised Edition): The Seven Greatest Scientific Discoveries in History and the People Who Made Them, terbitan 6 Agustus 2013. Buku ini merupakan edisi revisi. Sebelumnya pernah diterbitkan oleh Penerbit Perigee Trade, pada Agustus 1997.

Ketika gunung berapi itu meletus, sebagaimana catatan Brody dan Brody dalam buku tersebut, muncul aliran meterial lumpur dan banjir lahar dari danau kawah, yang menyebabkan 51.000 orang tewas.

Kesimpulan Van Bemmelen dan dua Brody tentang letusan Kelud pada 1902 tersebut mengacu pada buku Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857  yang terbit tahun 1918. Buku tersebut memaparkan bahwa pemerintah Belanda membangun sistem terowongan untuk mengurangi jumlah air di kawah pada tahun 1902.

Air kawah muncul setelah Gunung Kelud meletus. Belanda khawatir bakal timbul banyak korban saat Gunung Kelud meletus lagi, akibat banyaknya air yang berada dalam kawah.

Data ini sesuai dengan pernyataan Bung Karno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, di mana dia menyebut, “Dengan kekuatan yang hebat lahar yang mendidih-didih mencurah menuruni lereng gunung ke tempat yang lebih rendah dan menggenang di sana.”

Terowongan yang dibangun pun berhasil mengurangi air dari dalam kawah, namun kemudian jebol. Pada tahun 1923, Pemerintah Belanda membuat tujuh terowongan lagi untuk mengurangi jumlah air dalam kawah.

Jika mengacu pada data Van Bemmelen, serta data Brody dan Brody yang mengacu pada buku Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857, maka bisa jadi Gunung Kelud mengalami erupsi dahsyat pada tahun 1902—bukan 1901 sebagaimana disebut Kementerian ESDM dan diyakini oleh banyak sejarawan serta geolog.

Ploso Tidak Jauh dari Gunung Kelud

Data Die Erdbeben des Indischen Archipels bis zum Jahre 1857 dan buku The Geology of Indonesia, Volume 1, Part 1, Edisi 2, karya Reinout Willem van Bemmelen semestinya lebih valid secara akademik, karena waktu penyusunannya lebih dekat dengan peristiwa, dibanding buku Data Dasar Gunung Api Indonesia yang diterbitkan Kementerian ESDM pada tahun 2011.

Dengan demikian, data geolog Belanda tersebut mengonfirmasi jika Sukarno lahir pada tahun 1902. Sebab, pada tahun tersebut, Soekeni, ayah Sukarno, sedang bertugas mengajar di di Desa Ngelo—sekarang bernama Desa Rejoagung—Kecamatan Ploso, Jombang.

Perihal Soekeni tinggal di Ploso pada tahun tersebut terkonfirmasi oleh banyak saksi dan dokumen surat penugasannya dari Pemerintah Kolonial Belanda.

Jombang tentunya juga terdampak letusan Kelud pada tahun 1902 tersebut. Pasalnya, secara geografis, jaraknya lebih dekat dari Kelud daripada Surabaya. Sementara berbagai laporan ilmiah sepakat jika dampak letusan kali itu sangat kuat dan luas, hingga ke Surabaya di timur dan Pekalongan, Jawa Tengah, di bagian barat.

Jika Surabaya dan Pekalongan saja kena dampak, apalagi Jombang? Barangkali karena itulah Sukarno bercerita, “Gunung Kelud, yang tidak jauh letaknya dari tempat kami, meletus,” kepada Cindy Adams.

Terkait sosok Soemodihardjo, yang menurut laporan Kompas pada tahun 1970 menjadi saksi kelahiran Sukarno di Surabaya, Samudra Fakta mendapatkan data tentang nama yang sama, namun statusnya berbeda dari versi Kompas.

Soemodihardjo menurut temuan Samudra Fakta memiliki nama lengkap RM. Sajid Soemodijardjo. Dia bukan adik dari Soekeni, ayah Sukarno, sebagaimana dilaporkan oleh Kompas.

Menurut keterangan Kushartono, cucu Soemodihadjo, kakeknya itu adalah adik dari ayah angkat Sukarno yang bernama RM. Soemosewojo—yang punya rumah di Desa Pojok, Kecamatan Wates, Kediri, yang kini dikenal sebagai Ndalem Pojok.

Kakak-adik Soemosewojo dan Soemodihardjo, menurut Kushartono, memang masih berkerabat dengan Soekeni, tetapi bukan saudara kandung. Kushartono sendiri saat ini didapuk sebagai Ketua Yayasan Persada Soekarno Ndalem Pojok, Wates, Kabupaten Kediri, Jawa Timur.

Menurut versi Kushartono—yang berbeda sama sekali dengan Kompas—Soemodihardjo menjenguk Kusno, yang merupakan nama bayi Sukarno, ketika baru berusia lima hari. Soemodihadjo menjenguk Kusno di rumah bapaknya, Soekni, di Desa Ngelo (Rejoagung), Ploso, Jombang.

Dari keluarga Soemodihardjo sendiri, sebagaimana keterangan Kushartono, tidak pernah ada kisah bahwa Soemodihardjo menyaksikan kelahiran Sukarno di Surabaya, sebagaimana dilaporkan Kompas.