Amnesty International mendesak pemerintah dan aparat menghentikan razia serta intimidasi terhadap warga yang mengibarkan bendera bajak laut “One Piece”. Direktur Amnesty International Indonesia, Usman Hamid, menilai langkah aparat menyita dan menghapus mural One Piece di sejumlah daerah berlebihan.

____________________

“Pengibaran bendera One Piece adalah bagian dari kebebasan berekspresi yang dijamin konstitusi dan instrumen HAM internasional. Ekspresi damai ini bukan makar apalagi upaya memecah belah bangsa,” tegas Usman seperti dilansir laman Amnesty International,  Sabtu (9/8/2025).

Menurutnya, razia bendera One Piece di Tuban dan penghapusan mural di Sragen adalah bentuk represi yang menimbulkan ketakutan di masyarakat. Pemerintah diminta fokus menyelesaikan akar keresahan warga, bukan membungkam kritik.

Amnesty mengingatkan Indonesia sebagai pihak Kovenan Internasional Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR) wajib melindungi pendapat warga, termasuk ide yang dianggap “mengejutkan” atau “mengganggu”. “Negara harus hadir melindungi, bukan membiarkan pembungkaman suara kritis,” ujarnya.

Kasus bermula dari pemuda berinisial AR di Tuban yang mengunggah foto hormat pada bendera jolly roger di dekat rumahnya, Jumat (1/8). Besoknya, dia didatangi aparat Polsek, Koramil, intel Kodim, dan Satpol PP. Meski mengaku hanya iseng, bendera ukuran 40×50 cm itu disita, dan fotonya dihapus dari ponsel.

Di Sragen, mural One Piece dihapus warga setelah diminta anggota TNI dan Polri. Di Kota Tangerang, Wakapolda Banten Hengki menegaskan akan menindak tegas warga yang mengibarkan bendera tersebut saat HUT ke-80 RI.

Sebelumnya, Menko Polhukam Budi Gunawan menilai pengibaran bendera One Piece mengandung unsur pidana karena dianggap mencederai kehormatan Merah Putih. Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad bahkan menyebut ada upaya memecah belah persatuan. Menteri HAM Natalius Pigai menilai pengibaran itu bisa dilarang karena dianggap makar.

Fenomena bendera One Piece ramai di media sosial menjelang 17 Agustus. Sejumlah pengamat menilai aksi ini adalah simbol kekecewaan publik terhadap kondisi sosial dan pemerintahan, sebagaimana makna bendera jolly roger di serial One Piece yang melambangkan perlawanan terhadap kekuasaan absolut dan penindasan.***