Beberapa kota di dunia memang terkenal karena festivalnya yang meriah. Rio de Janeiro dengan Rio Carnival-nya yang legendaris, Venice dengan topeng misteriusnya, hingga Munich yang mengguncang dunia lewat bir dan musik Oktoberfest. Festival-festival ini bukan sekadar perayaan, tetapi juga magnet wisatawan global.
______________
Di Indonesia, tradisi ini tak kalah menarik. Jember memikat dunia lewat Jember Fashion Carnaval, Banyuwangi lewat Banyuwangi Ethno Carnival, Yogyakarta menghadirkan ARTJOG dan Sekaten, Dieng dengan ritual pemotongan rambut anak gimbal, serta Jakarta yang menjadi panggung musik internasional.
Namun, di tengah euforia global itu, Blitar memilih jalur berbeda. Sejak empat tahun lalu, kota ini menghadirkan Blitar Ethnic National (BEN) Carnival. Tahun 2025, BEN Carnival digelar untuk keempat kalinya, mengusung tema “The Magnificent of Indonesia – Untuk Kota Blitar Baru, Kota Blitar Maju Menuju Kota Masa Depan.” Ajang ini menampilkan 43 peserta dari perangkat daerah, BUMD, hingga instansi vertikal, mengekspresikan kostum etnik, tarian tradisional, musik daerah, dan atraksi lokal.
Meski semarak, muncul pertanyaan yang sederhana namun krusial: apakah nama BEN Carnival mampu menegaskan identitas Blitar dan warisan Bung Karno? Prosesi pembukaan yang dipimpin Dr. Syaifullah Agam, Direktur Film, Musik, dan Seni Kementerian Kebudayaan, dengan rampak kendang sebagai simbol harmoni kebhinekaan, menunjukkan niat baik. Sambutannya menekankan persatuan dan identitas bangsa.
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, menegaskan bahwa ajang ini adalah sarana edukasi, literasi, dan penggerak ekonomi kreatif, sekaligus memperkuat posisi Blitar sebagai kota terbuka dan kreatif. Namun, jika diperhatikan, BEN Carnival sepintas mirip dengan Jember Fashion Carnaval atau Banyuwangi Ethno Carnival. Ceruk yang diambil, seolah-olah, juga mirip.
Apalagi, nama BEN Carnival terasa generik. Ia tak menyiratkan sejarah, tak menyinggung nilai perjuangan yang melekat pada Blitar: kota tempat Bung Karno dimakamkan. Bukankah seharusnya festival ini menjadi kesempatan emas untuk menegaskan akar sejarah dan filosofi kebangsaan?
Bayangkan jika nama ini diganti menjadi Sukarno Festival. Sebuah festival yang tak hanya menampilkan keindahan budaya Nusantara, tetapi juga mengangkat nilai-nilai nasionalisme, kepemimpinan, dan pemikiran Bung Karno. Ceruk pasar ini bisa digarap maksimal oleh Pemkot Blitar.
Sukarno Festival bisa menjadi daya tarik jauh lebih kuat. Setiap kostum, tarian, dan musik bukan sekadar estetis, tetapi sarat pesan sejarah. Anak muda bisa terinspirasi oleh sosok Bung Karno sambil menikmati ragam atraksi kreatif. Rutenya bisa merambah seluruh jalan kota. Bila konsepnya kurang jelas, Pemkot Blitar bisa meniru kemeriahan peringatan 1 Abad Bung Karno, 6 Juni 2001.
Saat itu, hampir semua jalan di Blitar dijadikan panggung festival. Ada seniman membaca puisi, melukis di pinggir jalan, hingga pentas teatrikal dilakukan di jalan-jalan. Pengunjung yang datang lewat stasiun KA disambut musik keroncong lagu perjuangan. Semua semarak, hidup, dan penuh energi. Ribuan Sukarnois tumplek blek mengikuti peringatan itu. Kenapa kesuksesan seperti ini tidak diteruskan?
Hapus BEN Carnival, ganti dengan Sukarno Festival yang dikemas kekinian. Blitar tidak hanya merayakan budaya, tetapi juga memperkuat identitasnya sebagai kota sejarah dan kebangkitan nasional. Persatuan, kreativitas, dan ekonomi kreatif tetap dijaga, namun kini berpadu dengan kesadaran sejarah yang lebih dalam. Indonesia maju bukan hanya karena persatuan dalam seni, tetapi juga karena mengenali akar perjuangan bangsanya.
Sudah saatnya Blitar berani mengganti nama, menegaskan jati diri, dan menjadikan festival sebagai cermin masa depan yang berpijak pada sejarah. Hapus BEN Carnival. Sambut Sukarno Festival.***



Tinggalkan Balasan