Harga telur ayam ras di Indonesia sepanjang 2025 masih menunjukkan gejolak tajam. Data terbaru 27 Agustus 2025 memperlihatkan adanya disparitas harga ekstrem antara sentra produksi dan daerah konsumsi. Perbedaan harga bahkan mencapai lebih dari empat kali lipat.

__________

Menurut data Badan Pangan Nasional (Bapanas), harga rata-rata telur ayam ras pada 25 Agustus 2025 tercatat Rp29.363 per kilogram, sedikit di bawah Harga Acuan Penjualan (HAP) pemerintah Rp30.000 per kg. Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat rata-rata harga nasional Rp30.698 per kg pada pekan ketiga Agustus. Angka ini melampaui HAP dan naik tipis 0,38 persen dibanding Juli.

Perbedaan data dua lembaga ini menunjukkan tingginya volatilitas pasar. “Harga pasar kerap melintasi ambang batas HAP, menandakan adanya ketegangan antara harga ideal bagi peternak dan keterjangkauan bagi konsumen,” demikian bunyi analisis Gemini AI yang mengolah data dari 18 sumber, mulai dari marketplace, website pemerintah hingga media massa.

Blitar Murah, Papua Tembus Rp100 Ribu

Data Agustus menunjukkan Blitar, Jawa Timur, menjadi sentra dengan harga telur termurah yakni Rp22.100 per kg. Sebaliknya, harga melonjak tajam di Papua. Di Jayapura, harga telur Rp43.333 per kg. Kondisi lebih ekstrem terjadi di Kabupaten Mamberamo Tengah yang menembus Rp100.000 per kg, Kabupaten Puncak Jaya Rp95.000 per kg, dan Kabupaten Intan Jaya Rp80.000 per kg.

“Masalah utama bukan ketersediaan pasokan nasional, melainkan distribusi. Wilayah terpencil menghadapi hambatan logistik, ongkos transportasi mahal, dan infrastruktur yang belum memadai,” tulis laporan itu.

Jenis Telur dan Kanal Distribusi

Selain disparitas wilayah, harga juga berbeda tergantung jenis telur dan kanal penjualannya.

  • Telur ayam ras masih menjadi komoditas utama dengan harga rata-rata Rp29.363 – Rp30.698 per kg.

  • Telur ayam kampung jauh lebih mahal. Di pasar tradisional Solo, harga mencapai Rp3.000 per butir. Di ritel modern, Alfamart menjual kemasan enam butir Rp4.700 atau Rp783 per butir.

  • Telur bebek mentah di platform daring berkisar Rp2.400 – Rp5.720 per butir, sedangkan telur asin bebek bisa menembus Rp6.300 per butir.

Di pasar tradisional, harga lebih sensitif terhadap pasokan harian. Awal tahun, Pasar Kebayoran Lama dan Pasar Palmerah mencatat harga Rp30.500 – Rp32.000 per kg, di atas harga normal Rp27.000. Sementara di ritel modern dan e-commerce, harga lebih bervariasi karena adanya varian premium seperti telur omega 3, promosi, dan biaya operasional.

Pemicu Volatilitas

Laporan riset tersebut mengidentifikasi empat faktor utama pemicu fluktuasi harga telur:

  1. Permintaan musiman menjelang Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru.

  2. Kenaikan biaya pakan, khususnya jagung.

  3. Kebijakan pemerintah, misalnya distribusi besar-besaran lewat bantuan sosial.

  4. Faktor logistik, termasuk kenaikan harga BBM, bencana, dan keterbatasan infrastruktur.

Siklus Harga Berulang

Awal Januari 2025, harga telur bertahan di atas Rp30.000 per kg karena tingginya permintaan Nataru. Februari turun ke Rp29.256 per kg, lalu pasca-Lebaran sempat anjlok di sentra produksi. Namun pada Agustus kembali naik hingga Rp30.698 per kg.

Siklus naik-turun ini dianggap sebagai pola musiman yang selalu berulang. “Meski Indonesia berpotensi surplus 295 ribu ton telur tahun ini, tantangan distribusi dan inefisiensi rantai pasok membuat harga tetap bergejolak,” demikian laporan itu.

Rekomendasi

Laporan mendorong pemerintah untuk memperbaiki infrastruktur logistik di wilayah timur Indonesia dan meninjau kembali kebijakan HAP agar lebih fleksibel. Peternak disarankan memanfaatkan pola musiman untuk mengatur stok serta memperluas kanal penjualan lewat e-commerce. Sedangkan konsumen diimbau rajin membandingkan harga di berbagai kanal belanja agar mendapat harga terbaik.***