Langit Indonesia akan menyuguhkan pertunjukan langka. Minggu malam, 7 September 2025, bulan purnama tak lagi bersinar putih keperakan. Perlahan, wajahnya akan diselimuti bayangan bumi hingga berubah menjadi merah tembaga. Fenomena itu dikenal sebagai gerhana bulan total—dan kali ini bisa disaksikan di seluruh penjuru negeri.

_______________

Direktur Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam Kementerian Agama (Kemenag) Abu Rokhmad menyampaikan imbauan khusus. Ia mengajak umat Islam untuk tidak sekadar menatap langit, melainkan juga menundukkan kepala dalam doa. “Gerhana bulan ini momentum memperbanyak zikir, istigfar, dan doa bersama untuk keselamatan bangsa,” ujar Abu Rokhmad dikutip dari laman Kemenag, Kamis (4/9/2025).

Jadwal Gerhana Bulan Total 7–8 September 2025

Berdasarkan data astronomi, fase gerhana akan dimulai Minggu malam pukul 23.27 WIB. Sejam kemudian, tepat pukul 00.31 WIB, bayangan bumi menelan bulan sepenuhnya. Puncak gerhana terjadi pukul 01.11 WIB, sebelum akhirnya bulan kembali terang sekitar 02.56 WIB.

Fenomena ini dapat dinikmati di seluruh Indonesia. Warga di Bali, Nusa Tenggara, dan Sulawesi akan melihatnya satu jam lebih awal (WITA), sementara Papua dan Maluku dua jam lebih awal (WIT).

Shalat Gerhana dalam Islam

Dalam tradisi fikih, shalat gerhana dikenal dengan dua istilah: shalat kusuf (gerhana matahari) dan shalat khusuf (gerhana bulan). Meski begitu, kedua istilah bisa dipertukarkan.

Menurut laman Universitas Muhammadiyah Metro, mayoritas ulama sepakat bahwa hukum shalat gerhana adalah sunnah muakkad, dianjurkan dilakukan baik saat gerhana matahari maupun bulan, baik ketika safar maupun mukim.

Rasulullah SAW bersabda dalam hadis riwayat Bukhari:

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua ayat di antara ayat-ayat Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian atau hidupnya seseorang. Jika kalian melihatnya, maka berdoalah, dan shalatlah sampai terang kembali.”

Shalat Gerhana Lebih Utama Berjamaah

Shalat gerhana lebih dianjurkan dilakukan berjamaah di masjid. Hal ini sesuai hadis riwayat Aisyah RA:

“Maka beliau keluar menuju masjid lalu membariskan orang-orang di belakang beliau.”

Namun, bila dilakukan sendiri (munfarid), hukumnya tetap sah. Bahkan kaum wanita pun diperbolehkan ikut serta, sebagaimana diriwayatkan oleh Asma binti Abu Bakar.

Waktu dan Tempat Pelaksanaan

  • Shalat hanya boleh dilakukan sejak gerhana mulai tampak hingga selesai.

  • Lebih utama dilaksanakan di masjid, namun sah pula jika dilakukan di rumah atau lapangan.

  • Jika berbarengan dengan shalat lain seperti Jumat atau Idul Fitri, maka yang lebih wajib didahulukan.

Tata Cara Shalat Gerhana

Shalat gerhana dilakukan dua rakaat, dengan dua kali rukuk di setiap rakaat. Berikut urutannya:

  1. Niat dalam hati.

  2. Takbiratul ihram.

  3. Doa iftitah, ta’awudz, lalu membaca Al-Fatihah dengan jahr (keras).

  4. Membaca surat panjang, idealnya Al-Baqarah.

  5. Rukuk lama (setara bacaan ±100 ayat).

  6. I’tidal.

  7. Membaca Al-Fatihah lagi, dilanjutkan surat panjang seperti Ali Imran.

  8. Rukuk lama, lebih pendek dari rukuk pertama.

  9. I’tidal lalu sujud.

  10. Rakaat kedua dilakukan dengan cara yang sama, tetapi bacaannya lebih pendek.

  11. Salam.

Dalam riwayat Muslim, Aisyah RA menyebut Nabi SAW melaksanakan empat rukuk dan empat sujud dalam dua rakaat. Ada juga riwayat dengan tiga atau empat rukuk per rakaat, menunjukkan adanya kelonggaran.

Khutbah Setelah Shalat Gerhana

Setelah shalat, imam dianjurkan menyampaikan khutbah. Rasulullah SAW berkhutbah dengan memuji Allah, lalu mengingatkan umat agar memperbanyak doa, shalat, dan sedekah saat terjadi gerhana.

Amalan Sunnah Lain Saat Gerhana

Selain shalat, umat Islam dianjurkan memperbanyak amalan sunnah, di antaranya:

  • Membaca doa dan dzikir.

  • Memperbanyak istighfar.

  • Bersedekah.

  • Membebaskan budak (pada masa itu).

Rasulullah SAW bersabda:

“Jika kalian melihat hal itu, maka bersegeralah dengan gentar untuk mengingat-Nya, berdoa kepada-Nya, dan meminta ampun kepada-Nya.” (HR Bukhari)

Gerhana bulan total 7–8 September 2025 bukan hanya peristiwa astronomi, tetapi juga momentum spiritual. Melaksanakan shalat gerhana bulan sesuai sunnah menjadi wujud ketundukan sekaligus renungan bahwa seluruh jagat raya berjalan dalam kuasa Allah SWT.