Mata Siti tak henti berkaca-kaca. Ibu tiga anak di Sleman, Yogyakarta, itu terus memandangi setiap sudut bangunan kokoh di hadapannya. Rumah reyot yang dulu ia tinggali bersama dua kakaknya, kini telah menjelma menjadi hunian permanen yang tak pernah ia bayangkan dalam mimpi terliarnya sekalipun.

___________

”Saya tidak pernah bermimpi punya rumah seperti ini,” ucapnya lirih dikutip dari Samudra Fakta, Kamis (9/10/2025). Istana kecilnya itu bukan hadiah dari taipan atau pemerintah. Melainkan, hasil tetesan keringat ribuan orang yang tak dikenalnya, yang bergotong royong dari seluruh penjuru negeri.

Kisah Siti adalah satu dari 97 potret kemenangan nyata yang tersebar di 17 provinsi. Inilah buah dari Gerakan Rumah Syukur Shiddiqiyyah Fatchan Mubina, sebuah gerakan patungan masif yang digerakkan oleh Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah (OPSHID). Momentumnya pun pas: 97 rumah gratis untuk menandai 97 tahun Sumpah Pemuda.

Skemanya sederhana: urunan. Siapa saja bisa ikut. Ada yang menyumbang Rp50 ribu untuk sebatang bata, ada pula yang patungan Rp4 juta untuk membangun satu meter persegi rumah. Setiap rupiah dikumpulkan, setiap bata dipasang, menjadi bukti cinta tanah air yang konkret.

Harapan yang sama mekar di Pati, Jawa Tengah. Di sana, Sherly, bocah lima tahun yang yatim piatu, kini bisa tidur lebih nyenyak. Ia tak lagi meringkuk kedinginan di gubuk tua bersama neneknya yang seorang buruh tani. Rumah baru yang hangat menjadi saksi mimpi-mimpinya kini.

Jejak kepedulian itu juga sampai di Bekasi. Nenek Rokiyah, 70 tahun, kini bisa menutup masa senjanya dengan lebih tenang. Rumah berukuran 3×6 meter yang sebelumnya ia tinggali berdesakan dengan enam anggota keluarga, kini telah diganti dengan bangunan yang lebih kokoh dan layak.

Bahkan, gerakan ini menembus batas hingga ke Gorontalo, wilayah yang notabene bukan basis utama OPSHID. Satu rumah tetap berdiri di sana, membuktikan bahwa semangat gotong royong tak kenal sekat geografis.

Uniknya, OPSHID menolak gerakan ini disebut sebagai “penggalangan donasi”. Mereka lebih suka menyebutnya sebagai “gotong royong untuk Indonesia Raya”. Filosofinya dalam: setiap rupiah yang terkumpul adalah amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.

Nama Fatchan Mubina sendiri diambil dari Al-Qur’an surat Al-Fath ayat 1, yang berarti kemenangan nyata. ”Kemenangan sejati itu bukan soal siapa yang berkuasa, melainkan siapa yang mau peduli,” ujar salah seorang penggerak.

Saat 97 rumah itu berdiri, dari Sleman hingga Gorontalo, kemenangan itu memang terasa nyata. Bukan kemenangan milik satu organisasi, melainkan kemenangan seluruh rakyat Indonesia yang masih percaya pada kekuatan gotong royong.**