Kita sering menyebut kata adab seolah sedang mengucapkan mantra suci. Sebuah pusaka warisan dari masa silam yang kita yakini masih kita genggam dengan utuh. Padahal, bila kita jujur menatap diri sendiri, adab hari ini barangkali sudah berubah rupa—tinggal jadi hiasan di dinding ruang tamu, bukan lagi napas dalam keseharian.

_____________

Adab, dalam makna aslinya, bukan sekadar sopan santun yang dibungkus tata krama. Ia lebih dalam dari sekadar tahu kapan harus menundukkan kepala, atau bagaimana menyusun kata agar terdengar manis. Kata itu datang dari bahasa Arab: adabun, yang bermakna pendidikan, kebiasaan, juga keluhuran budi. Ia adalah cermin dari kehalusan jiwa—bagaimana kita menempatkan diri di hadapan manusia lain, di hadapan alam, dan di hadapan Tuhan.

Kalau dipikir-pikir, adab itu sederhana. Ia tampak pada tutur kata yang tidak melukai, pada gerak tubuh yang tahu batas, pada niat yang bersih dari pamrih. Ia hadir saat kita menjaga lisan agar tidak menjadi senjata, saat kita memberi ruang bagi orang lain untuk bicara tanpa kita potong di tengah jalan. Adab bukan teori, melainkan kebiasaan yang dibentuk oleh hati yang terlatih untuk menghormati.

Masalahnya, kita hidup di zaman yang gemar mengagungkan pengetahuan, tapi lupa pada kebijaksanaan. Gelar akademik bisa berderet di belakang nama, tapi cara bicara sering kali tak punya empati. Kita belajar tentang manajemen sumber daya manusia, tetapi gagal mengelola emosi sendiri. Di banyak tempat, adab seakan menjadi barang mewah—langka, mahal, dan tidak semua orang mau memilikinya.

Padahal, para ulama dan guru-guru kita dahulu selalu menempatkan adab di atas ilmu. “Ilmu tanpa adab, seperti api tanpa cahaya,” kata mereka. Ilmu membuat kita pintar, tapi adab membuat kita manusia. Ilmu menuntun kepala, adab membentuk hati. Tanpanya, pengetahuan bisa berubah menjadi kesombongan yang dingin dan mematikan.

Adab itu bukan konsep mengawang-awang. Ia hadir di setiap ruang kecil dalam hidup. Saat kita berbicara, berpakaian, makan, atau bahkan ketika sedang sendiri. Adab berbicara mengajarkan kita memilih kata dengan bijak. Adab berpakaian menuntun kita berpikir: pantaskah aku tampil begini di hadapan orang lain? Adab makan mengingatkan kita untuk berdoa, tidak berisik, dan tidak rakus. Adab bertamu meminta kita memberi salam, meminta izin, dan tidak duduk sebelum dipersilakan. Hal-hal kecil, tapi di situlah letak pendidikan yang sesungguhnya.

Kita sering menyebut bangsa Indonesia sebagai bangsa yang beradab. Kita bangga disebut ramah, sopan, dan murah senyum. Tapi mari sejenak menatap cermin. Apakah masih demikian wajah kita hari ini? Apakah kita masih sabar di jalan raya, masih santun di media sosial, masih tahu berterima kasih dan meminta maaf dengan tulus?

Setiap bangsa punya caranya sendiri dalam mengekspresikan adab. Di Jepang, orang membungkuk dalam-dalam sebagai tanda hormat—gerakan yang terlihat sederhana, tapi penuh makna. Di Amerika, mereka mengekspresikannya lewat penghargaan pada ruang pribadi dan waktu orang lain. Di Tiongkok, sapaan “sudah makan belum?” menjadi simbol kepedulian. Kita pun punya kebiasaan sendiri—memberi salam dengan tangan kanan, menundukkan kepala kepada yang lebih tua, dan menahan diri agar tidak menyela pembicaraan. Semua itu adalah bentuk kasih yang lahir dari budaya.

Namun, dalam derasnya arus modernitas, adab kita mulai tergerus oleh kecepatan. Media sosial membuat orang terbiasa berkomentar tanpa berpikir, seolah ruang digital bebas dari etika. Teknologi menjadikan komunikasi mudah, tapi sering kehilangan rasa. Kita berdebat bukan lagi untuk mencari kebenaran, melainkan kemenangan. Kita menyapa bukan untuk membangun kedekatan, tapi sekadar basa-basi kosong.

Padahal, adab sejatinya adalah cermin diri. Ia menuntut kejujuran hati: bagaimana kita memperlakukan orang lain saat tak ada yang melihat. Ia adalah kesetiaan kita pada nilai-nilai kebaikan, bahkan ketika dunia tak lagi menganggapnya penting.

Adab adalah tentang tanggung jawab. Tanggung jawab terhadap diri sendiri, terhadap sesama, dan terhadap kehidupan yang lebih luas dari sekadar kepentingan pribadi. Ia adalah kesadaran bahwa kebaikan tak perlu panggung, dan kesopanan tak menunggu tepuk tangan.

Maka, mungkin kini saatnya kita bertanya ulang: bukan apa itu adab, melainkan apakah kita masih memilikinya. Karena di tengah zaman yang gaduh dan serba cepat ini, adab memang sudah berubah menjadi barang mewah. Barang yang tak semua orang sanggup membelinya—bukan karena tak mampu, tapi karena lupa cara menghargainya.***