Jawa Timur kini berstatus SIAGA bencana hidrometeorologi. Merespons rilis terbaru BMKG yang menetapkan status peringatan tinggi tersebut, Gubernur Khofifah Indar Parawansa dan Kapolda Jatim Irjen Pol Nanang Avianto memimpin langsung Apel Kesiapan Tanggap Darurat di Mapolda Jatim, Surabaya, Rabu (5/11).

Apel siaga ini digelar serentak di seluruh provinsi dan kabupaten/kota. Total 6.000 personel gabungan se-Jawa Timur dikerahkan untuk mengecek kesiapan.

Di hadapan ribuan personel, Gubernur Khofifah menegaskan apel ini adalah wujud nyata dan langkah antisipasi bersama merespons peringatan dini BMKG. Puncak musim hujan yang sudah di depan mata harus direspons dengan kesiapan penuh.

”Puncak musim hujan sudah di depan mata. Maka, kita ingin mengajak seluruh pihak untuk ikut berkontribusi aktif menghadapi potensi bencana hidrometeorologi,” tegas Khofifah.

Mantan Menteri Sosial itu merinci, Jatim berpotensi menghadapi serangkaian bencana. Mulai dari banjir, cuaca ekstrem, longsor, gelombang tinggi, hingga angin kencang.

”Lewat apel ini kita juga ingin personel maupun sarana prasarana peralatan penanggulangan bencana siap siaga mengantisipasi situasi darurat,” lanjutnya.

Sementara itu, Kapolda Jawa Timur Irjen Pol Nanang Avianto menyatakan, apel ini adalah pengecekan menyeluruh, dari personel (SDM) hingga peralatan. Kesiapan ini mutlak diperlukan menyusul perubahan iklim yang cepat.

”Kita cek kembali dari mulai awak personel kemudian peralatan. Ini harus benar-benar siap karena dari kemarin mulai ada perubahan iklim,” kata Nanang.

Jenderal bintang dua itu menegaskan, peringatan BMKG membuat status kesiapan menjadi prioritas utama. “Beberapa kali juga terjadi bencana, dan inipun sudah mendekati puncaknya. Sehingga kesiapan kita harus benar-benar siap,” tambahnya.

Nanang merinci, di Mapolda Jatim sendiri terdapat 1.400 personel gabungan. Ia menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor, mulai TNI, Pemda, BPBD, Basarnas, hingga masyarakat.

”Kita pastikan melakukan dengan cepat dan tepat. Karena ini berkaitan pertolongan pada jiwa,” pungkasnya.

Khofifah menambahkan, kolaborasi adalah kunci utama untuk melindungi masyarakat dan meminimalkan dampak bencana. ”Kita meyakini kolaborasi ini sebagai salah satu kunci melindungi keselamatan masyarakat,” tutupnya.***