Saya mengucapkan selamat ulang tahun ke-120 untuk Kota Blitar, 1 April 2026,—kota yang mungkin kini tak lagi saya tinggali, tetapi selalu punya ruang di hati. Namun, justru karena kedekatan emosional itu, saya merasa perlu jujur: perayaan hari jadi kali ini terasa… sepi.
Tema besar yang diusung, “Transformasi Kota Blitar Menjadi Kota Masa Depan”, terdengar ambisius. Tetapi di lapangan, maknanya terasa buram. Tidak tampak geliat visual kota yang mencerminkan momentum penting ini—minim dekorasi, minim identitas perayaan, dan agenda kegiatan yang berjalan seperti rutinitas biasa. Bahkan di ruang publik utama seperti alun-alun, aura hari jadi nyaris tak terasa.
Di saat yang sama, publik justru disuguhi narasi yang membingungkan: kisah “mencari Mbak Wawali” yang ramai di media sosial. Jika memang ada dinamika internal, mengapa harus menjadi konsumsi publik? Bukankah kolaborasi mestinya ditunjukkan melalui kerja nyata, bukan sekadar jargon?
Sebagai seseorang yang pernah aktif di ekosistem kota kreatif, saya melihat persoalan ini lebih dalam dari sekadar seremoni. Kota masa depan tidak lahir dari slogan, melainkan dari arah yang jelas. Pertanyaannya sederhana: **Blitar hendak menjadi kota seperti apa?**
Apakah kota kreatif yang terhubung dengan jaringan global seperti UNESCO?
Apakah kota digital yang bertumpu pada inovasi teknologi?
Atau sekadar kota dengan proyek fisik tanpa fondasi SDM yang kuat?
Pengalaman saya terlibat dalam gerakan kota kreatif—termasuk saat mendampingi ekosistem di Jawa Timur—menunjukkan bahwa transformasi kota selalu berangkat dari kolaborasi nyata antara pemerintah dan komunitas. Kota Malang, misalnya, berhasil masuk jaringan –UNESCO Creative City Network–sebagai –City of Media Arts– bukan hanya karena infrastruktur seperti Malang Creative Center, tetapi karena kekuatan SDM-nya: para kreator, pengembang aplikasi, pelaku game, dan seniman media.
Itu semua dibangun dari bawah—dari komunitas, dari jejaring, dari roadmap panjang yang konsisten.
Di Blitar, saya belum melihat arah itu dipaparkan secara utuh. Bahkan dalam forum nasional seperti Indonesia Creative City Festival, yang dihadiri ribuan pelaku ekonomi kreatif, pejabat negara, hingga investor, paparan yang disampaikan masih berkutat pada agenda kegiatan, bukan desain masa depan.
Padahal, momentum hari jadi seharusnya menjadi titik refleksi sekaligus deklarasi arah.
Saya percaya, Blitar punya potensi besar. Tetapi potensi itu perlu dijahit dengan visi yang konkret dan keberanian untuk benar-benar berkolaborasi—bukan sekadar mengucapkannya.
Jika memang ada roadmap besar, publik berhak tahu. Jika memang ada ruang kolaborasi, mari dibuka seluas-luasnya.
Saya, dan mungkin banyak lainnya, tidak sekadar ingin mengkritik. Kami ingin terlibat. Dengan jejaring yang kami miliki—baik di tingkat nasional maupun global—kolaborasi itu bukan sesuatu yang mustahil.
Pertanyaannya tinggal satu: apakah kota ini benar-benar ingin bertransformasi, atau sekadar merayakan kata-kata?
*) Penulis adalah penggiat ICCN.***



Tinggalkan Balasan