Saat hubungan Indonesia–Iran memanas di tengah konflik global, jejak ulama Iran justru telah lama hadir di Blitar melalui petilasan Syekh Subakir yang berada di dekat Candi Penataran.
Petilasan ini berada di wilayah Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, tak jauh dari kaki Gunung Kelud. Lokasinya yang sejuk dan asri menjadikannya tempat yang kerap dikunjungi peziarah untuk berdoa maupun bermeditasi.
Dalam berbagai riwayat, Syekh Subakir disebut sebagai ulama yang datang ke Jawa pada awal abad ke-15, bahkan sebelum era Wali Songo. Ia diyakini diutus dari Persia oleh penguasa Ottoman untuk merintis penyebaran Islam di Nusantara.
Perannya tidak hanya sebagai pendakwah, tetapi juga dikaitkan dengan misi spiritual. Dalam legenda yang berkembang, Syekh Subakir disebut berhasil “menundukkan” kekuatan gaib yang dipercaya menguasai tanah Jawa, khususnya di kawasan Gunung Tidar. Karena itu, ia dijuluki sebagai sosok “Pakuning Tanah Jawa”.
Rujukan Kitab Musarar
Kisah mengenai Syekh Subakir juga terekam dalam Kitab Musarar. Dalam manuskrip tersebut, ia disebut bernama asli Syaikh Tambuh Aly bin Syaikh Baqir, seorang ulama dari Persia yang dikenal alim, memiliki pengetahuan luas, serta kemampuan spiritual yang kuat.
Kitab itu menggambarkan kondisi awal Tanah Jawa sebagai wilayah yang masih berupa hutan lebat, gelap, dan didominasi oleh berbagai makhluk gaib. Kepercayaan masyarakat saat itu disebut masih berada dalam pengaruh animisme, dinamisme, serta tradisi Hindu-Buddha.
Dalam narasi Musarar, misi Syekh Subakir berangkat dari kegagalan beberapa gelombang awal penyebaran Islam yang disebut terganggu oleh kekuatan gaib. Ia kemudian diutus untuk “membersihkan” tanah Jawa melalui praktik spiritual seperti ruqyah dan ritual penetralan di berbagai gunung.
Langkah tersebut digambarkan bertujuan menciptakan kondisi yang kondusif bagi dakwah Islam agar dapat diterima masyarakat tanpa hambatan non-fisik. Karena itu, dalam sejumlah tafsir, Syekh Subakir kerap ditempatkan sebagai perintis sebelum generasi Wali Songo berkembang.
Selain itu, Kitab Musarar juga memuat narasi lain yang bercampur antara sejarah dan mitologi, seperti kisah usia dunia, zaman sangsara yang dihubungkan dengan masa kolonial, hingga ramalan munculnya “Ratu Adil” yang dalam beberapa penafsiran dikaitkan dengan perjuangan Pangeran Diponegoro.
Bukan Makam
Petilasan di Penataran bukanlah makam utama Syekh Subakir. Lokasi ini diyakini hanya sebagai tempat singgah atau jejak perjalanan dakwahnya di wilayah Blitar. Sementara itu, makam yang lebih dikenal masyarakat luas berada di kawasan Gunung Tidar, Magelang.
Meski demikian, nilai spiritual petilasan di Penataran tetap tinggi di mata masyarakat. Banyak pengunjung datang untuk berziarah, mencari ketenangan batin, hingga melakukan refleksi diri.
Keberadaan petilasan ini semakin menarik karena berada di sekitar kawasan bersejarah. Candi Penataran merupakan kompleks peninggalan Kerajaan Majapahit, yang menunjukkan bahwa wilayah ini sejak lama menjadi pusat aktivitas budaya dan spiritual.
Perpaduan antara warisan Hindu-Buddha dan jejak awal Islam menjadikan kawasan Penataran sebagai ruang pertemuan lintas peradaban yang unik dalam sejarah Jawa.
Destinasi Wisata Religi
Kini, petilasan Syekh Subakir di Penataran menjadi salah satu destinasi wisata religi yang cukup dikenal di Blitar. Aksesnya relatif mudah dari pusat kota, sehingga banyak dikunjungi baik oleh peziarah lokal maupun dari luar daerah.
Keberadaan situs ini tidak hanya memperkaya khazanah sejarah, tetapi juga memperlihatkan bagaimana proses Islamisasi di Jawa berlangsung panjang—memadukan dakwah, budaya, dan narasi spiritual yang hingga kini masih hidup di tengah masyarakat.***



Tinggalkan Balasan