Polemik keberadaan burung blekok di Alun-Alun Kota Blitar seharusnya tidak berhenti pada perdebatan soal kebersihan dan kenyamanan kota. Di balik koloni burung air yang bersarang di pohon beringin Alun Alun Kota Blitar, sesungguhnya tersimpan peluang besar untuk membangun pendidikan lingkungan hidup yang dekat dengan masyarakat.

Keberadaan satwa liar di banyak kota modern dunia justru dimanfaatkan sebagai sarana edukasi ekologis bagi warga, terutama anak-anak. Burung bukan dianggap gangguan, melainkan media belajar hidup berdampingan dengan alam di tengah perkembangan kota.

Namun di  Kota Blitar, pendekatan yang muncul justru cenderung administratif dan reaktif. Burung blekok diarahkan berpindah karena dianggap menimbulkan kotoran dan mengganggu estetika kawasan alun-alun. Padahal, bila dikelola dengan pendekatan edukatif, blekok dapat menjadi simbol penting kesadaran lingkungan kota.

Belajar Ekologi dari Ruang Kota

Sebuah penelitian akademik justru menunjukkan bahwa keberadaan burung blekok dapat menjadi aset pendidikan lingkungan, konservasi, hingga penggerak ekonomi masyarakat. Hal itu tertuang dalam penelitian berjudul Strategi Kolaboratif Pemerintah Daerah dalam Pengembangan Wisata Kampung Blekok karya Rosadiyanto, Ilyasi, dan Khotimah yang dimuat dalam Jurnal Kolaborasi Administrasi Publik.

Burung blekok memiliki nilai ekologis yang besar. Kehadiran mereka biasanya menandakan masih tersedianya rantai makanan alami dan kualitas lingkungan yang cukup baik bagi satwa air.

Koloni burung di tengah kota sebenarnya dapat dijadikan laboratorium hidup terbuka bagi pelajar dan masyarakat untuk memahami:

  • migrasi dan perilaku satwa,
  • keseimbangan ekosistem urban,
  • pentingnya pohon besar sebagai habitat,
  • hingga dampak pembangunan terhadap biodiversitas.

Di Singapura, sekolah-sekolah rutin mengajak siswa mengamati burung dan satwa urban sebagai bagian pendidikan lingkungan. Zurich dan Oslo bahkan memasukkan konsep biodiversitas kota ke dalam desain ruang publik dan kurikulum edukasi warga.

Pendekatan seperti itu menunjukkan bahwa kota masa depan bukan hanya soal teknologi digital, melainkan juga kemampuan membangun kesadaran ekologis masyarakat sejak dini.

Kampung Blekok Menjadi Contoh

Penelitian tentang Kampung Blekok Situbondo dalam Jurnal Kolaborasi Administrasi Publik menunjukkan bahwa burung blekok dapat menjadi pusat edukasi konservasi dan pemberdayaan masyarakat.

Dalam penelitian tersebut dijelaskan bahwa pengembangan wisata dilakukan dengan tetap menjaga habitat burung air dan ekosistem mangrove sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.

Masyarakat bahkan dilibatkan secara langsung melalui pendekatan Community Based Tourism (CBT), mulai dari edukasi lingkungan, pengelolaan wisata, hingga pengembangan UMKM lokal.

Artinya, burung blekok bukan diposisikan sebagai masalah kota, melainkan sebagai aset sosial, ekologis, dan ekonomi.

Kesempatan yang Bisa Diambil Blitar

Kota Blitar sebenarnya memiliki peluang membangun identitas lingkungan yang unik melalui keberadaan blekok di alun-alun. Pemerintah dapat mengembangkan:

  • papan edukasi tentang habitat burung,
  • zona observasi satwa,
  • program sekolah peduli biodiversitas,
  • festival lingkungan,
  • hingga wisata edukasi urban ecology.

Alih-alih menghalau koloni burung, pendekatan seperti ini justru dapat memperkuat citra “Blitar Kota Masa Depan” sebagai kota modern yang tetap berpihak pada kelestarian alam.

Terlebih di tengah krisis iklim dan berkurangnya ruang hijau perkotaan, kehadiran satwa liar di tengah kota menjadi fenomena yang semakin langka. Kota-kota dunia kini berlomba menghadirkan kembali biodiversitas urban, bukan malah menyingkirkannya.

Kota Masa Depan Butuh Kesadaran Ekologis

Pendidikan lingkungan tidak selalu harus hadir di ruang kelas. Kadang ia hadir lewat pohon tua di alun-alun, suara burung saat pagi hari, atau kesadaran bahwa manusia bukan satu-satunya penghuni kota.

Karena itu, polemik blekok di Blitar semestinya menjadi momentum refleksi. Apakah kota masa depan hanya dibangun dengan internet cepat dan layanan digital, atau juga dengan kemampuan warga memahami dan menghargai kehidupan lain di sekitarnya?

Jika Blitar ingin benar-benar menjadi kota masa depan, maka pendidikan ekologis harus menjadi bagian penting pembangunan. Dan mungkin, burung blekok yang kini dianggap gangguan justru bisa menjadi guru lingkungan paling nyata bagi kota ini.***