Kehadiran satwa liar di tengah perkotaan ternyata masih mudah ditemukan di Kota Blitar. Selain burung blekok yang kerap terlihat bertengger di pohon beringin Alun-Alun Kota Blitar, tim Ini Blitar dua kali menjumpai bajing berlarian di atas kabel telepon di kawasan Jalan Veteran dan Jalan Sudanco Supriadi.

Fenomena ini menjadi tanda bahwa ekosistem perkotaan di Blitar masih cukup terjaga. Hewan kecil yang lincah melompat dari dahan ke dahan tersebut kemungkinan besar adalah bajing kelapa (Callosciurus notatus), mamalia pengerat yang umum hidup di wilayah perkotaan Jawa Timur.

Banyak masyarakat masih menyamakan bajing dengan tupai. Padahal secara ilmiah keduanya berbeda. Tupai berasal dari ordo Scandentia dan memiliki kekerabatan lebih dekat dengan primata, sedangkan bajing termasuk ordo Rodentia atau kelompok hewan pengerat.

Bajing biasanya mudah dikenali dari ekornya yang lebat, gerakannya yang cepat di atas pohon, serta kebiasaannya memakan buah, biji-bijian, atau pucuk tanaman. Sementara tupai memiliki moncong lebih panjang dan cenderung aktif mencari serangga di sela kulit pohon.

Di Kota Blitar, keberadaan bajing paling sering terlihat di kawasan hijau seperti area sekitar Alun-Alun, jalur menuju Makam Bung Karno, hingga taman kota yang memiliki pohon-pohon besar dan rindang. Bahkan kabel telepon, kabel listrik, dan ranting pohon kerap menjadi “jalur tol” alami bagi satwa tersebut untuk berpindah tempat.

Keberadaan bajing ini juga berkaitan erat dengan munculnya koloni burung blekok yang beberapa tahun terakhir menjadi perhatian warga Kota Blitar. Sama seperti blekok, bajing membutuhkan lingkungan yang relatif tenang, pepohonan yang terhubung, serta sumber makanan alami yang cukup.

Pengamat lingkungan menyebut kemunculan satwa liar seperti bajing dan blekok dapat menjadi indikator biologis bahwa ruang terbuka hijau di Kota Blitar masih berfungsi cukup baik.

Ada beberapa faktor yang mendukung keberadaan satwa tersebut di tengah kota, di antaranya:

  • Pohon besar masih banyak tersedia sebagai tempat berlindung dan bersarang.
  • Rantai makanan alami tetap terjaga karena keberadaan buah, biji, dan serangga.
  • Kanopi pepohonan saling terhubung sehingga memudahkan satwa berpindah tanpa harus turun ke tanah.
  • Tingkat gangguan lingkungan dan polusi belum terlalu ekstrem.

Selain menjadi penanda lingkungan sehat, bajing juga memiliki peran penting dalam ekosistem. Hewan ini membantu penyebaran biji tanaman dan mendukung regenerasi pohon secara alami.

Warga diimbau tidak menangkap atau mengganggu satwa tersebut jika menemukannya di pepohonan kota. Jika menemukan anakan yang jatuh dari sarang, sebaiknya cukup dipindahkan ke tempat aman dan tinggi agar induknya dapat kembali menemukannya.

Kehadiran bajing dan blekok di Kota Blitar sekaligus menjadi pengingat bahwa keseimbangan antara pembangunan kota dan kelestarian ruang hijau tetap penting dijaga agar satwa liar perkotaan tetap bisa hidup berdampingan dengan manusia.***