“Orang desa mana pernah pegang dolar.” Kalimat seperti itu masih sering terdengar ketika nilai tukar dolar Amerika Serikat (USD) menguat terhadap rupiah. Banyak yang mengira fluktuasi kurs hanya urusan eksportir, importir, bankir, atau pelaku bisnis besar di Jakarta.

Seolah-olah masyarakat desa tidak ada hubungannya dengan mata uang hijau bernama dolar itu. Padahal kenyataannya justru sebaliknya.

Masyarakat pedesaan, termasuk petani dan peternak di Blitar Raya, mungkin tidak pernah bertransaksi menggunakan dolar secara langsung. Namun kehidupan mereka sangat dipengaruhi oleh pergerakan dolar setiap hari. Bahkan bisa dikatakan, ketika dolar naik, yang paling dulu merasakan dampaknya justru petani dan peternak rakyat.

Aksi ratusan peternak ayam petelur di Blitar Raya pada Senin (1/6/2026) menjadi bukti nyata. Mereka membagikan telur gratis kepada masyarakat sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi usaha yang semakin sulit.

Harga telur di tingkat peternak saat ini hanya berkisar Rp20.600 per kilogram. Sementara Harga Pokok Produksi (HPP) sudah mencapai sekitar Rp23.000 per kilogram. Artinya setiap kilogram telur yang dijual justru menghasilkan kerugian.

Kerugian tersebut bukan terjadi karena peternak tidak efisien. Penyebab utamanya adalah melonjaknya biaya produksi, terutama harga pakan yang sebagian bahan bakunya masih bergantung pada impor.

Ketika kurs dolar mendekati Rp18.000 per USD, seluruh rantai pasok pakan ternak ikut terguncang.

Bungkil kedelai atau Soybean Meal (SBM), yang menjadi sumber protein utama dalam pakan ayam, sebagian besar masih diimpor dari Amerika Serikat, Brasil, dan Argentina. Pembeliannya menggunakan dolar. Saat dolar naik, harga bahan baku ikut naik. Pabrik pakan menaikkan harga. Distributor menaikkan harga. Akhirnya peternak di desa yang harus menanggung seluruh bebannya.

Dalam beberapa bulan terakhir, harga pakan ayam terus meningkat. Ada yang naik dari Rp345.000 menjadi Rp368.000 per karung 50 kilogram. Kenaikan tersebut langsung memangkas keuntungan peternak, bahkan mengubah keuntungan menjadi kerugian.

Dolar ternyata tidak berhenti di kandang ayam.

Dolar juga masuk ke sawah.

Banyak bahan baku pupuk non-subsidi masih bergantung pada impor, terutama fosfat dan kalium. Ketika rupiah melemah, biaya impor meningkat dan harga pupuk di tingkat kios ikut naik. Akibatnya modal tanam petani semakin besar.

Belum lagi mesin pertanian, traktor, pompa air, hingga suku cadang alat produksi yang sebagian besar berasal dari luar negeri. Semua ikut terpengaruh oleh kurs dolar.

Dolar bahkan sampai ke dapur rumah tangga.

Tempe dan tahu yang menjadi lauk sehari-hari masyarakat desa dibuat dari kedelai impor. Tepung terigu untuk gorengan berasal dari gandum impor. Ketika dolar menguat, biaya bahan baku naik dan harga pangan ikut terdorong naik.

Akhirnya ibu rumah tangga di desa harus mengeluarkan uang lebih banyak untuk membeli kebutuhan yang sama.

Inilah yang sering tidak terlihat dalam perdebatan ekonomi.

Dolar tidak perlu hadir dalam bentuk lembaran uang untuk memengaruhi kehidupan masyarakat desa. Dolar bekerja melalui harga pakan, pupuk, solar, mesin, sembako, dan biaya transportasi.

Ketika dolar naik, biaya produksi petani naik.

Ketika dolar naik, biaya produksi peternak naik.

Ketika dolar naik, harga kebutuhan rumah tangga ikut naik.

Maka ketika ada yang berkata bahwa orang Blitar tidak memakai dolar, sesungguhnya pernyataan itu tidak sepenuhnya benar.

Peternak ayam di Kanigoro, petani padi di Wlingi, pedagang tahu di Srengat, hingga ibu rumah tangga di Ponggok mungkin tidak pernah menyimpan dolar di dompet mereka. Namun setiap hari mereka membayar dampak dari naik turunnya dolar melalui harga barang yang mereka beli.

Aksi bagi-bagi satu juta telur oleh peternak Blitar Raya bukan sekadar aksi protes soal harga telur. Itu adalah pesan keras bahwa ekonomi pedesaan Indonesia masih sangat rentan terhadap gejolak global.

Selama bahan baku pakan, pupuk, energi, dan berbagai kebutuhan produksi masih bergantung pada impor, maka nasib petani dan peternak di desa akan selalu ikut ditentukan oleh pergerakan kurs dolar.

Karena itu pertanyaannya bukan lagi apakah orang desa memakai dolar atau tidak.

Pertanyaan yang lebih tepat adalah: sampai kapan petani dan peternak Indonesia harus terus bergantung pada dolar untuk bisa bertahan hidup? ***