AS dan Iran resmi menandatangani nota kesepahaman (MoU) perdamaian pada Kamis (18/6/2026) dini hari. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan itu membuka kembali Selat Hormuz, menghentikan permusuhan, serta memulai negosiasi 60 hari terkait program nuklir Iran.

Presiden Iran Masoud Pezeshkian dan Presiden Amerika Serikat Donald Trump menandatangani dokumen tersebut secara digital dan jarak jauh. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif turut membubuhkan tanda tangan sebagai mediator dalam proses diplomatik yang menghasilkan kesepakatan tersebut.

Berdasarkan rincian yang dirilis kedua pihak, perjanjian itu mengatur penghentian permusuhan secara permanen dan dimulainya masa negosiasi selama 60 hari untuk mencapai kesepakatan final mengenai program nuklir Iran.

Salah satu poin penting dalam MoU tersebut adalah pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis yang menjadi urat nadi perdagangan minyak dan gas dunia. Pembukaan selat itu berlaku tanpa biaya selama dua bulan pertama setelah kesepakatan diberlakukan.

Selain itu, Iran akan mengurangi persediaan uranium yang diperkaya tinggi, sementara Amerika Serikat berkomitmen mencabut sejumlah sanksi yang selama ini membatasi ekspor minyak Iran.

Dalam unggahan di akun X, Pezeshkian menyebut kesepakatan tersebut sebagai dokumen bersejarah yang mencerminkan komitmen kedua negara untuk menempuh jalur damai.

“Ini adalah dokumen bersejarah dan pesan dari Iran yang kuat: perdamaian akan tercapai melalui rasa saling menghormati,” tulis Pezeshkian.

Ia juga menegaskan bahwa Republik Islam Iran tetap berkomitmen pada perdamaian global dengan tetap menjunjung martabat, kemerdekaan, kemajuan nasional, dan kerja sama regional.

Menurut kantor berita resmi Iran, IRNA, kesepakatan mulai berlaku segera setelah ditandatangani oleh para pemimpin kedua negara.

Sementara menurut Arab News, Trump sebelumnya menandatangani salinan fisik dokumen tersebut saat menghadiri jamuan makan malam bersama Presiden Prancis Emmanuel Macron di Istana Versailles, Prancis, Rabu (17/6/2026) waktu setempat.

“Sudah ditandatangani,” kata Trump kepada wartawan saat meninggalkan acara tersebut.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyatakan harapannya agar kesepakatan damai dengan Amerika Serikat dapat membantu memulihkan stabilitas kawasan Timur Tengah.

Ia juga menekankan pentingnya dialog dengan negara-negara Arab Teluk guna memperkuat hubungan regional dan mengurangi ketegangan yang selama ini membayangi kawasan.

Sebagai tindak lanjut, pertemuan awal antara delegasi Iran dan Amerika Serikat dijadwalkan berlangsung di resor Buergenstock, Swiss, pada Jumat (19/6/2026). Pertemuan tersebut akan melibatkan Pakistan dan Qatar untuk membahas implementasi kesepakatan serta tahapan menuju perjanjian final.

Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif menegaskan bahwa penandatanganan MoU di tingkat kepala negara menunjukkan komitmen kuat kedua pihak untuk menyelesaikan konflik melalui jalur diplomatik.

“Penandatanganan perjanjian ini di tingkat tertinggi pemerintahan masing-masing menunjukkan komitmen kedua belah pihak terhadap penyelesaian konflik secara diplomatik,” tulis Sharif melalui akun X miliknya.***