Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengeluarkan sejumlah rekomendasi bagi petani di Jawa Timur untuk menghadapi musim kemarau 2026 yang diprediksi lebih kering dan berlangsung lebih panjang dibanding kondisi normal. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus 2026.

Langkah antisipasi dinilai penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus menekan risiko gagal panen akibat berkurangnya ketersediaan air selama musim kemarau.

Kepala Stasiun Klimatologi Jawa Timur Anung Suprayitno menjelaskan, musim kemarau tahun depan berpotensi lebih kering karena peluang terjadinya El Nino kategori lemah hingga moderat meningkat menjadi 50–60 persen pada paruh kedua 2026.

“Kondisi ini menyebabkan musim kemarau tahun 2026 di Jawa Timur berpotensi lebih kering,” ujar Anung, dikutip dari rilis BMKG, Ahad (21/6/2026).

BMKG merekomendasikan petani menggunakan varietas padi berumur pendek yang lebih tahan terhadap kekeringan. Langkah ini dinilai penting untuk menyesuaikan masa tanam dengan potensi berkurangnya pasokan air di sejumlah wilayah.

Selain itu, petani disarankan menyesuaikan kalender tanam dengan mengalihkan sebagian lahan dari tanaman padi ke komoditas palawija yang membutuhkan air lebih sedikit. Penyesuaian pola tanam tersebut diharapkan mampu mengurangi risiko kerugian akibat kekeringan berkepanjangan.

BMKG juga mendorong optimalisasi pemanfaatan lahan melalui pengembangan tanaman hortikultura. Diversifikasi usaha tani dinilai tidak hanya membantu menjaga produktivitas lahan, tetapi juga menjadi sumber pendapatan alternatif ketika produksi tanaman pangan utama menurun akibat dampak kemarau.

Di sisi lain, pemerintah daerah dan pengelola sumber daya air diminta memaksimalkan panen air hujan pada akhir musim hujan 2025/2026. Air yang tertampung di waduk, embung, maupun tampungan lainnya diharapkan dapat dimanfaatkan secara efisien untuk memenuhi kebutuhan irigasi selama musim kemarau.

Pilihan Varietas Padi Tahan Kering

Sejalan dengan rekomendasi BMKG, sejumlah varietas padi berumur pendek dan relatif tahan terhadap kondisi kekeringan dapat menjadi alternatif bagi petani, terutama di wilayah sawah tadah hujan dan daerah dengan keterbatasan pasokan air.

Beberapa varietas padi yang berhasil dihimpun antara lain:

SR P08 Ultra Genjah memiliki masa panen sekitar 65–75 hari setelah tanam. Varietas ini dikenal adaptif di lahan kering maupun basah sehingga cocok digunakan ketika musim tanam mengalami keterlambatan.

M70D termasuk varietas unggul dengan umur panen sekitar 70 hari. Selain relatif tahan terhadap musim kering, varietas ini juga memiliki ketahanan terhadap sejumlah hama dan tidak mudah rebah.

Trisakti memiliki masa panen sekitar 75 hari setelah tanam. Varietas ini dikenal cukup tahan terhadap kekeringan, toleran terhadap penyakit blas dan wereng, serta menghasilkan nasi bertekstur pulen.

Inpago 8 merupakan varietas padi gogo yang dirancang untuk lahan kering. Umur panennya sekitar 105–110 hari dengan potensi hasil mencapai 7–8 ton per hektare dan adaptif terhadap cuaca ekstrem.

Inpago 11 Agritan memiliki ketahanan yang baik terhadap kekeringan, terutama pada fase vegetatif awal. Varietas ini dapat dipanen pada umur sekitar 111 hari dengan potensi hasil hingga 6 ton gabah kering giling per hektare.

Satria 05 menjadi salah satu varietas yang banyak digunakan pada musim tanam kedua atau musim kemarau. Umur panennya sekitar 85 hari dan cukup toleran terhadap cekaman kekeringan.

Puncak Kemarau Agustus 2026

BMKG memprediksi puncak musim kemarau 2026 akan terjadi pada Agustus di 53 Zona Musim (ZOM) atau sekitar 70,9 persen wilayah Jawa Timur. Sebanyak 56 ZOM atau 75,5 persen wilayah juga diperkirakan mengalami sifat hujan bawah normal.

Awal musim kemarau diprediksi terjadi pada Mei 2026 di 43 ZOM atau sekitar 56,9 persen wilayah Jawa Timur. Sebanyak 26 ZOM diperkirakan memasuki musim kemarau pada April, sedangkan lima ZOM lainnya pada Juni.

Wilayah yang diperkirakan paling awal memasuki musim kemarau meliputi Tanjung Bumi di Kabupaten Bangkalan, seluruh wilayah Kota Probolinggo, sebagian wilayah timur dan utara Kabupaten Probolinggo, sebagian wilayah timur dan utara Kabupaten Situbondo, serta Kecamatan Banyuates dan Ketapang di Kabupaten Sampang.

Sementara itu, wilayah yang diperkirakan paling akhir memasuki musim kemarau berada di Kecamatan Pronojiwo dan Tempursari, Kabupaten Lumajang, serta Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Malang, yang diperkirakan baru memasuki musim kemarau pada akhir Juni 2026.

BMKG juga memperkirakan durasi musim kemarau tahun depan relatif panjang. Durasi terpanjang berada pada rentang 22–24 dasarian di 20 ZOM atau sekitar 23 persen wilayah Jawa Timur. Secara umum, durasi kemarau diprediksi lebih panjang dibanding kondisi normal periode 1991–2020.

Selain sektor pertanian, BMKG mengingatkan pemerintah daerah untuk mengantisipasi potensi kekurangan air bersih serta meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Potensi El Nino juga dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan produksi garam rakyat dan mendorong diversifikasi ekonomi masyarakat.***