Prosesi sakral ruwatan negara resmi dimulai pada Minggu petang, (17/8/2025), bertepatan dengan HUT ke-80 Kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dari Balai Desa Pagung, Kecamatan Semen, rombongan budaya mengarak Wayang Mbah Gandrung menuju Situs Persada Bung Karno di Pojok Wates. Ribuan warga Kabupaten Kediri tumpah ruah memenuhi jalan untuk menyaksikan jalannya kirab.

________________

Prosesi kirab berlangsung semalam suntuk hingga Senin pagi, (18/8/2025). Setelah tiba di Balai Desa Pojok, wayang kembali diarak sejauh satu kilometer menuju Situs Persada Bung Karno.

“Senin pagi, Wayang Mbah Gandrung ikut puncak Ruwatan Negara di Situs Persada Sukarno. Setelah selesai, akan diarak lagi kembali ke Desa Pagung,” jelas Ketua Harian Situs Persada Sukarno, RM Kushartono.

Rute dan Peserta Kirab

Rute kirab dimulai dari Balai Desa Pagung – Kedak – Terminal – Jembatan Brantas – Kolak – Kawedanan Ngadiluwih – Sumber Sugih Waras – Djimboen – Balai Desa Pojok. Kirab ini diikuti tim Opshid, pecalang, pasukan sesaji, penggiat budaya, serta diiringi mobil banner, ambulans, hingga kol tepak.

Kirab mendapat pengawalan Patwal. Suasana khidmat terasa ketika pasukan sesaji dan Wayang Gandrung tampil dengan musik tradisional.

Pagelaran Wayang Kulit

Rangkaian acara juga dimeriahkan dengan pagelaran Wayang Kulit semalam suntuk oleh Ki Dalang Pandyoharjo dari Ringinrejo, Kediri. Pertunjukan digelar setelah rombongan wayang gandrung menempuh perjalanan sekitar 45 kilometer menuju Ndalem Pojok.

Wayang gandrung sempat tampil satu jam sebelum perjalanan dilanjutkan. Rombongan dijadwalkan tiba di Balai Desa Pojok pada Senin dini hari, lalu kirab dilanjutkan menuju Situs Persada Bung Karno.

Dalam lakon yang dibawakan, Ki Dalang Pandyoharjo menekankan pentingnya perenungan perjalanan bangsa.
“Sejak proklamasi, cita-cita pendiri bangsa banyak melenceng. Semar hadir untuk meruwat negeri, agar sistem yang korup dan pejabat serakah bisa dibenahi,” tuturnya.

Pagelaran dibuka dengan Jejer Nagara, menghadirkan tokoh Semar dan Bathara Wisnu yang melambangkan keseimbangan serta kekuasaan ilahi.

Prosesi ruwatan ini menjadi simbol doa bersama, agar bangsa Indonesia kembali ke cita-cita luhur para pendiri, sekaligus penghormatan kepada Sang Proklamator.