Kritik soal kebersihan dan fasilitas Alun-alun Blitar memicu respons cepat pemkot, sementara desain berbasis AI justru menunjukkan potensi wajah kota yang lebih modern.
Alun-alun Kota Blitar kembali jadi perbincangan publik. Bukan hanya karena kritik tajam dari konten kreator, tetapi juga karena munculnya visual alternatif berbasis kecerdasan buatan (AI) yang memperlihatkan wajah alun-alun lebih rapi, modern, dan estetik.
Sorotan bermula dari konten influencer asal Malang, Gilang, yang menilai hasil renovasi alun-alun tak sebanding dengan anggaran sekitar Rp5 miliar. Ia menyoroti sejumlah persoalan mendasar, mulai dari fasilitas rusak hingga sanitasi yang dinilai buruk.
Keluhan itu cepat viral. Warganet ramai membahas kondisi toilet yang berbau, wastafel tanpa air, hingga lantai yang mulai rusak di beberapa titik.
Respons Cepat Pemkot
Wali Kota Blitar, Syauqul Muhibbin, atau akrab disapa Mas Ibin, langsung turun ke lokasi. Ia memberikan klarifikasi bahwa konsep alun-alun memang mempertahankan gaya “open space” khas era kolonial.
“Identitas kota harus dijaga,” ujarnya dalam tinjauan tersebut.
Namun, ia juga mengakui adanya keterbatasan anggaran perawatan yang berdampak pada kondisi fasilitas. Pemkot berjanji melakukan perbaikan dan meningkatkan pemeliharaan agar alun-alun tetap nyaman bagi masyarakat.
Dilema Blekok: Ikon atau Masalah?
Di balik polemik fasilitas, ada persoalan lama yang belum tuntas: populasi burung blekok atau kuntul yang menghuni pohon beringin di kawasan alun-alun.
Keberadaan ribuan burung ini menghadirkan dilema. Di satu sisi, mereka dianggap indikator lingkungan yang masih sehat. Di sisi lain, kotorannya menimbulkan bau menyengat dan mengotori area publik.
Keluhan pengunjung pun kerap muncul. Tak sedikit yang mengaku pakaiannya terkena kotoran burung saat duduk santai di bawah pohon.
Pemkot selama ini memilih pendekatan konservasi. Selain karena status satwa dilindungi, burung blekok juga telah menjadi bagian dari identitas lokal. Upaya yang dilakukan lebih pada pembersihan rutin dengan penambahan petugas kebersihan.
AI Tawarkan Solusi Visual
Di tengah kritik tersebut, muncul perbandingan menarik. Foto lama alun-alun yang diambil tim Redaksi Ini Blitar dari Google Maps kemudian direkayasa menggunakan teknologi AI menghasilkan tampilan yang jauh lebih modern.
Dalam visual tersebut, jalur pedestrian tampak rapi dengan pencahayaan elegan, taman tertata simetris, dan area publik yang bersih tanpa kesan kumuh. Nuansa hijau tetap dipertahankan, namun dengan sentuhan desain kota modern.
Perbandingan ini memunculkan pertanyaan publik: apakah wajah seperti itu hanya sebatas imajinasi digital, atau bisa diwujudkan?
Antara Konsep dan Kemauan
Selama ini, persoalan Alun-alun Blitar bukan semata desain, melainkan eksekusi dan konsistensi perawatan. Konsep “asri” yang diusung selama ini sering berbenturan dengan kebutuhan kebersihan dan kenyamanan publik.
Sejumlah solusi teknis sebenarnya memungkinkan diterapkan tanpa mengusir burung blekok. Misalnya, pemasangan kanopi transparan di area duduk, penggunaan material lantai yang mudah dibersihkan, hingga zonasi area hijau dan aktivitas.
Kini, bola ada di tangan pemerintah kota. Apakah tetap bertahan dengan konsep lama, atau mulai berani mengadopsi pendekatan baru yang lebih adaptif. Satu hal yang pasti: publik sudah melihat gambaran kemungkinan. Tinggal menunggu, apakah itu akan menjadi kenyataan atau tetap sekadar visual AI. ***



Tinggalkan Balasan