Putiah (71), warga Desa Madi, Kecamatan Kudu, Kabupaten Jombang, tak lagi harus menghabiskan masa tuanya di rumah yang tidak layak huni. Nenek yang sehari-hari mengasuh cucu-cucunya seorang diri itu menjadi salah satu penerima program pembangunan rumah gratis yang digelar warga Thoriqoh Shiddiqiyyah menjelang peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Secara nasional, warga Shiddiqiyyah mulai membangun 126 unit Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia Layak Huni yang tersebar di berbagai daerah. Pembangunan ditandai dengan peletakan Batu Syukur secara serentak pada Senin (22/6/2026) di 88 kabupaten dan kota.
Program tersebut merupakan kegiatan tahunan yang dilaksanakan Organisasi Dhilaal Berkat Rochmat Alloh Shiddiqiyyah (DHIBRA) bersama organisasi di lingkungan Thoriqoh Shiddiqiyyah. Seluruh rumah ditargetkan selesai dan diresmikan pada 17 Agustus 2026 sebagai bagian dari peringatan Hari Kemerdekaan Indonesia.
Lihat postingan ini di Instagram
Kepala Desa Madi, Winarsih, menyambut baik bantuan yang diterima Putiah. Menurutnya, program tersebut memberi harapan baru bagi warga yang selama ini hidup dalam keterbatasan ekonomi.
“Alhamdulillah, bantuan ini sangat membantu warga kami yang memang membutuhkan rumah layak huni,” ujarnya.
Penanggung Jawab Rumah Syukur wilayah Kudu, Bagus Harianto, menjelaskan seluruh biaya pembangunan berasal dari sedekah pribadi warga Shiddiqiyyah.
“Penggalian dana berasal dari shodaqoh pribadi anggota, ada yang berupa material dan kebutuhan lainnya,” kata Bagus.
Ia menyebut biaya pembangunan satu unit rumah di wilayah Kudu mencapai sekitar Rp120 juta. Selain dalam bentuk dana, dukungan juga diberikan melalui sumbangan bahan bangunan dan tenaga secara gotong royong.
DHIBRA menetapkan rumah tipe 36 sebagai standar bangunan. Namun ukuran rumah dapat disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat, terutama bagi keluarga yang memiliki jumlah anggota lebih banyak.
Sebelum ditetapkan sebagai penerima bantuan, calon penghuni terlebih dahulu melalui proses verifikasi yang mencakup kondisi rumah, tingkat ekonomi keluarga, dan situasi sosial di lingkungan tempat tinggalnya.
Menurut penyelenggara, tanggal 22 Juni dipilih sebagai awal pembangunan karena bertepatan dengan hari lahir Piagam Jakarta pada 1945. Di tengah berbagai agenda organisasi dan kegiatan menyambut Tahun Baru Hijriah, warga Shiddiqiyyah tetap melaksanakan pembangunan rumah secara gotong royong di daerah masing-masing.
Program Rumah Syukur tidak hanya ditujukan untuk menyediakan hunian yang layak bagi masyarakat kurang mampu, tetapi juga untuk memperkuat semangat kebersamaan dan kepedulian sosial menjelang peringatan kemerdekaan Indonesia.***



Tinggalkan Balasan