Flyer pentas Drama Kolosal Kobar Agni Bela Nagari yang bakal dipentaskan di depan Museum Tentara PETA Jalan Shodancho Supriyadi, Kota Blitar, Sabtu (17/2/2024).Foto: Pemkot Blitar

KOTA BLITAR, iNiBlitar.com — Drama kolosal peringatan Hari Cinta Tanah Air dipentaskan di depan Area Museum Tentara Peta, Jalan Shodanco Supriyadi, Sabtu (17/2/2024) pukul 19.30 WIB. Drama kolosal berjudul Kobar Agni Bela Nagari mengisahkan perjuangan tentara PETA yang dipimpin Shodanco Supriyadi pada 14 Februari 1945. Seperti apa pedihnya Shodanco Supriyadi menghadapi Jepang?

Laman ESI Kemdikbud mengolah dari berbagai sumber untuk menelusuri profil Shodancho Supriyadi. Melansir artikel dari laman tersebut, Supriyadi adalah sosok penting dalam sejarah militer Indonesia yang melakukan pemberontakan terhadap Jepang di Blitar. Ia lahir di Trenggalek, pada 13 April 1923 dengan nama kecil Priyambodo, putra Bupati Blitar R. Darmadi. Ia menghilang sejak 14 Februari 1945 setelah memimpin pemberontakan PETA terhadap terhadap tentara pendudukan Jepang dan tidak pernah diketahui keberadaannya hingga kini. Sejak remaja ia memiliki semangat patriotis yang membara terhadap cikal bakal Negara Republik Indonesia. Semangat itu terinspirasi dari nilai-nilai kepahlawanan dalam cerita wayang yang diajarkan oleh kakeknya.

Supriyadi memulai pendidikannya di Europeesche Lagere School (ELS) di Blitar, kemudian melanjutkan ke sekolah menengah di Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Setamat dari MULO ia masuk ke Sekolah Pamong Praja di Magelang. Belum tamat dari sekolah tersebut Supriyadi harus berhenti sekolah karena Jepang menginvasi Hindia Belanda. Setelah Jepang menguasai Hindia Belanda, Supriyadi mengikuti pelatihan Seimendoyo di Banten dan dilanjutkan mengikuti pelatihan instruktur tentara Pembela Tanah Air (PETA) di Bogor.

Karir militer Supriyadi dimulai sebagai instruktur yang diangkat oleh Jepang untuk pembentukan tentara PETA. Supriyadi ditempatkan di Peleton I Kompi II di Blitar. Kebenciannya terhadap Jepang muncul setelah ia menyaksikan kekejaman tentara Jepang terhadap masyarakat Indonesia kala itu.

Pada masa pendudukan Jepang rakyat Indonesia hanya boleh mendengarkan berita yang disiarkan oleh pihak Jepang. Berita-berita yang disiarkan pun hanya merupakan propaganda kosong mengenai kehebatan dan keberanian Angkatan Perang Dai Nippon, selain itu mengenai kemenangan dan kemajuan yang telah dicapai oleh tentara Jepang di berbagai medan peperangan. Namun pada kenyataannya Jepang selalu mengalami kekalahan dan kemampuan perang tentaranya semakin hari semakin menurun. Penguasa Jepang menjalankan politik isolasi yang sangat ketat terhadap rakyat Indonesia.