Pada 1960-an, arca tersebut dipindahkan ke pendopo kabupaten dan kini disimpan di Museum Penataran. Di dalam taman, arca Ganesha digantikan dengan yang baru. Jeffry mencatat bahwa tanah Bon Rojo adalah milik gemeente Blitar, sedangkan tanah gereja adalah milik gereja setempat.

Awalnya, Bon Rojo difungsikan oleh pemerintah kolonial Hindia Belanda sebagai laboratorium tanaman unggulan. Taman ini juga menjadi tempat persemaian berbagai jenis tanaman, mulai dari pohon lindung hingga bunga-bungaan dan rumput atau gazon, untuk mendukung kualitas perkebunan (onderneming) di Blitar.

Surat kabar Bataviaasch Niewblad edisi 19 Desember 1907 menyebut Bon Rojo sebagai laboratorium tanaman unggulan, sehingga disebut miniatur Kebun Raya Bogor. Tanaman-tanaman unggulan yang membuat perkebunan Belanda berjaya di Blitar tidak lepas dari riset yang dilakukan di taman ini.

Namun, Bon Rojo tidak hanya berperan dalam riset agrikultur. Taman ini juga didirikan sebagai tempat rekreasi bagi masyarakat Belanda dan masyarakat Blitar, menjadikannya kebanggaan kota. Di taman ini terdapat koepel khas bergaya arsitektur Belanda, yang dibuat oleh administratur sebagai tempat berteduh.

Keindahan Bon Rojo, dengan kolam yang mengitarinya dan sentuhan arsitektur Eropa, menjadikannya salah satu daya tarik utama Kota Blitar. Setelah sempat terlupakan, Bon Rojo kini kembali menjadi ikon hijau yang membanggakan di tengah kota Blitar yang terus berkembang. Bon Rojo bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga simbol kebanggaan rakyat Blitar.