
BLITAR, iNiBlitar.com — Otorita Ibu Kota Nusantara (OIKN) memutuskan untuk mengadopsi Autonomous Rail Rapid Transit (ART) sebagai salah satu solusi transportasi publik masa depan. Keberadaan transportasi publik tanpa membangun rel ini diharapkan menjadi solusi bagi daerah-daerah dengan APBD terbatas.
Transportasi publik di Kota dan Kabupaten Blitar terus mengalami penurunan perhatian dari pemerintah daerah. Seiring dengan kebijakan kredit sepeda motor yang semakin mudah, angkutan umum semakin tergeser. Pada masa lalu, terdapat angkutan umum bernama mikrolet yang menghubungkan Kota Blitar dengan kota-kota kecamatan di sekitarnya.
Angkutan berwarna kuning ini menjadi pilihan utama bagi warga yang ingin menuju ke kawasan Candi Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, terutama para pelajar pada tahun 1990-1995. Selain itu, terdapat pula jalur lain yang menghubungkan Kota Blitar dengan berbagai wilayah, seperti Srengat, Kediri, Ngantru (Tulungagung), Selorejo, Kesamben, dan Pantai Tambak.
Sayangnya, sistem transportasi publik di Kota/Kabupaten Blitar belum dihidupkan kembali. Padahal, teknologi modern seperti Autonomous Rail Rapid Transit (ART) dapat menjadi solusi untuk menghidupkan kembali sistem transportasi tersebut.



Tinggalkan Balasan