Sistem ART, yang dikembangkan oleh Cina, menggunakan teknologi relasi, tanpa karet, dan dipandu secara elektronik. CRRC Zhuzhou, perusahaan Cina, telah berhasil mengoperasikan sistem ART sejak Mei 2018 di beberapa kota di Cina, seperti Zhuzhou, Yibin, Yancheng, dan Yongxiu.

Pada 21 Maret 2023, sistem ART dibuka sebagai jalur demonstrasi di Xi’an, Cina Barat Laut, di Area Pengembangan Baru Xixian. Jalur ini menawarkan layanan antara Stasiun Doumen dan Stasiun Happy Valley dengan interval 10-15 menit, dan saat ini, layanan naik kereta ART ini gratis.

Di luar negeri, beberapa negara juga menunjukkan minat terhadap sistem ART. Abu Dhabi telah melakukan uji coba dengan menerima dua kendaraan ART, sementara Kota Kuching di Malaysia berencana untuk membeli 38 kendaraan ART yang menggunakan penggerak hidrogen.

Di Indonesia, Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi, menyatakan bahwa pembangunan ART lebih rasional karena sesuai dengan ketersediaan anggaran pendapatan dan belanja daerah (APBD). Pembangunan Mass Rapid Transit (MRT) atau Light Rail Transit (LRT) dianggap tidak memungkinkan karena memerlukan anggaran yang jauh lebih besar.

Oleh karena itu, Pemkot Surabaya berencana untuk merealisasikan pembangunan ART dengan penggerak magnet. Presiden Joko Widodo juga menawarkan ART sebagai alternatif baru untuk transportasi massal di Indonesia.