Dunia sudah lama mengenal karnaval sebagai pesta budaya paling meriah. Dari Rio de Janeiro, New Orleans, hingga Notting Hill di London, semua menghadirkan parade spektakuler dengan identitas khas masing-masing. Namun, Indonesia–khususnya Kota Blitar—, sebenarnya punya peluang emas lewat Sukarno Festival.

_______________

Rio de Janeiro terkenal dengan samba dan kostum glamornya. New Orleans punya Mardi Gras dengan manik-manik dan musik jazz. Barranquilla di Kolombia menampilkan campuran tradisi Eropa, Afrika, dan pribumi. Bahkan Oruro di Bolivia diakui UNESCO sebagai warisan budaya dunia. Semua itu sudah lebih dulu menancapkan branding kuat di mata wisatawan global.

Di Eropa, Venesia memikat lewat topeng elegan, Nice tampil dengan parade bunga, Cologne populer dengan Rose Monday, dan Binche di Belgia menonjol dengan tradisi Gilles. Asia pun tak kalah. Jember Fashion Carnaval (JFC) sukses menembus kancah internasional, sementara Holi di India dan Snow Festival di Sapporo mampu menarik jutaan pengunjung. Biarlah karnaval-karnaval dunia itu disaingi oleh Jember Fashion Carnaval dan Banyuwangi Ethnic Carnival. Kota Blitar bisa memilih ceruk mendatangkan massa sesuai potensinya yakni Sukarno Festival.

Lalu, di mana posisi Sukarno Festival?

Festival ini dinilai punya diferensiasi kuat dibanding karnaval lain, bahkan dibanding BEN Carnival. Jika BEN Carnival lebih menekankan parade hiburan, Sukarno Festival membawa narasi sejarah dan identitas bangsa dikemas dalam bentuk kekinian. Nama Sukarno sudah mendunia sebagai proklamator dan ikon anti-imperialisme. Branding itu bisa menjadi magnet wisatawan global.

Sukarno Festival tidak hanya menampilkan kostum atau tarian, melainkan juga menghadirkan nilai historis. Narasi Konferensi Asia-Afrika, Gerakan Non-Blok, hingga semangat kemerdekaan bisa diwujudkan dalam teater jalanan, parade kolosal, dan visual teknologi modern.

Potensi ekonominya pun besar. Festival ini bisa menghidupkan sektor UMKM, pariwisata, hingga industri kreatif. Dengan kemasan digital—dari augmented reality hingga hologram Sukarno—festival ini bisa tampil futuristik sekaligus sarat makna. Kalau BEN Carnival hanya jadi hiburan lokal, Sukarno Festival bisa menjadi diplomasi budaya. Ini wajah baru Indonesia di mata dunia.

Kota Blitar punya peluang mencetak sejarah baru di panggung karnaval dunia. Jika Brasil punya samba, Italia punya topeng, dan Trinidad punya steelpan, maka Indonesia bisa menjual identitas global lewat Sukarno. Inilah ceruk pasar yang belum digarap kota-kota lain di Indonesia.

Sukarno Festival jika digelar bukan sekadar pesta. Ia adalah panggung sejarah, diplomasi budaya, sekaligus peluang ekonomi. Dengan positioning yang tepat, bukan tidak mungkin Sukarno Festival akan menyaingi event Rio Carnival dan bahkan melampaui BEN Carnival, yang baru saja digelar pada Sabtu (23/8/2025) lalu di Kota Blitar.