Bogor pagi, Selasa, 18 November 2025,   terasa berbeda. Langkah-langkah cepat para pejabat Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terdengar memasuki koridor sekolah.

____________

Satu per satu direktur melepas rutinitas ruang rapat dan memilih duduk di bangku kecil, berdiri di depan papan tulis, dan menatap puluhan wajah muda yang penasaran. Menjelang Hari Guru Nasional (HGN) 2025, para direktur itu memutuskan turun kembali menjadi pengajar.

Mereka tidak datang hanya untuk menyapa. Mereka mengajar. Mereka merasakan ulang degup ruang kelas—tekanan, keriuhan, sekaligus kebahagiaan yang setiap hari dialami guru.

“Ini agar empati kami makin kuat. Kami ingin merasakan menjadi guru,” ujar Dirjen Guru, Tenaga Kependidikan, dan Pendidikan Guru, Nunuk Suryani, yang memimpin gerakan ini. Ia menegaskan bahwa kebijakan pendidikan tidak boleh lahir dari tumpukan berkas semata, tetapi dari pengalaman nyata di sekolah.

Asga Memulai Kelas, Suasananya Langsung Hidup

Di SMA Negeri 7 Bogor, suasana berubah sejak Putra Asga Elevri, Direktur Guru Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus, melangkah masuk ke kelas XI. Dengan senyum dan suara lantang, ia membuka sesi tentang “7 Jurus BK Hebat”. Murid-murid spontan duduk tegap. Beberapa bahkan bersorak kecil.

Asga memilih metode interaktif. Ia memberi pertanyaan pendek, melempar petunjuk-petunjuk kecil, lalu meminta murid menebak. Semua berlangsung cair, ramah, dan penuh tawa.

“Berani mencoba. Jangan takut salah. Belajar itu proses bereksperimen,” kata Putra Asga, sambil menunjuk salah satu siswa yang terlihat ragu.

Lama tidak mengajar tidak membuatnya kaku. Pengalaman 10 tahun di ruang kelas terlihat dari cara ia mengatur ritme, membangun dialog, dan menenangkan murid yang grogi. Kelas itu hidup. Murid angkat tangan, menjawab cepat, dan menimpali pertanyaan dengan pendapat mereka sendiri.

Raya dan Nabil Menjawab Tantangan

Di tengah obrolan, Asga meminta murid berbagi cita-cita. Raya, siswi yang duduk di baris tengah, mengangkat tangan paling dulu. “Saya ingin jadi psikolog,” ujarnya. Kalimatnya disambut tepuk tangan teman-temannya.

Nabil, berjaket hitam, menyebut dirinya ingin menjadi engineer. Asga menanggapi keduanya dengan antusias. Sebuah kelas yang biasanya tegang menjelang jam siang berubah menjadi ruang dialog yang terbuka dan hangat.

“Ini pengalaman baru. Kami bebas berekspresi. Salah ya akui saja,” kata Nabil seusai sesi.

Siswi lain, Raissa Amira Fasori, mengaku mendapatkan sesuatu yang jauh lebih penting: kepercayaan diri. “Belajarnya mudah dipahami. Kami dihargai,” ujarnya.

Kepala SMA Negeri 7 Bogor, Ismartaya, memperhatikan bagaimana murid bereaksi. Ia melihat banyak siswa dari kelas lain mengintip pintu, berharap ikut belajar bersama sang direktur.
“Antusiasmenya luar biasa,” katanya.

Menurut Ismartaya, suasana seperti itu jarang muncul di kelas-kelas reguler. Kehadiran pejabat yang memilih mengajar—bukan memberi sambutan—menjadi kejutan yang menyenangkan.

Belajar Lagi untuk Menyusun Kebijakan

Setelah sesi mengajar selesai, Asga menghela napas panjang. “Program ini sangat relevan. Pimpinan perlu merasakan lagi bagaimana mengajar dan membimbing murid,” ujarnya.

Baginya, ruang kelas adalah tempat paling jujur untuk menilai kebijakan. Ia melihat langsung bagaimana murid merespons materi, bagaimana guru menjalankan peran, dan bagaimana sekolah mengatur ritme belajar.

Dalam sekejap, semua laporan yang biasanya ia baca di kantor terasa sangat berbeda setelah ia kembali merasakan padatnya energi ruang kelas.

Gerakan “direktur mengajar” ini menjadi simbol kuat. Pemerintah ingin menunjukkan bahwa penyusunan kebijakan pendidikan harus menyentuh realitas, bukan hanya tabel, grafik, dan laporan akhir tahun.

Dengan turun langsung ke kelas, para direktur belajar hal yang sama dengan murid: berkomunikasi lebih baik, mendengar lebih dalam, memahami lebih jernih. Sementara guru melihat bahwa jerih payah mereka akhirnya dipahami dari jarak paling dekat.

Bulan Guru Nasional tahun ini pun terasa berbeda. Ada energi baru, ada komitmen baru, dan ada harapan besar agar kebijakan pendidikan Indonesia makin berpijak pada pengalaman nyata.

Semua itu lahir dari satu keputusan sederhana: kembali masuk kelas