Kabar duka menyelimuti dunia seni dan budaya Tanah Air. Maestro dalang legendaris, Ki Anom Suroto, berpulang ke rahmatullah pada Kamis (23/10) pagi. Dalang kondang asal Sukoharjo tersebut mengembuskan napas terakhirnya sekitar pukul 07.00 WIB setelah lima hari menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit (RS) dr Oen Kandang Sapi, Solo.
_______________
Kepergian sang maestro menyisakan duka mendalam. Namun, bagi keluarga, Ki Anom Suroto pergi dengan sangat tenang. “Alhamdulillah, kepergian beliau sangat bagus karena tidak merasakan sedikit pun sakit,” ujar salah seorang putranya dikutip dari akun Youtube @Daerah Solo.
Rupanya, sang maestro seolah telah memiliki firasat sebelum berpulang. Putra almarhum menceritakan bahwa ayahnya sempat menyampaikan pesan-pesan yang tak biasa saat dirawat di rumah sakit. “Mungkin beliau sudah ada firasat juga,” tuturnya.
Ia teringat ucapan terakhir sang ayah yang kini terasa sebagai pertanda. “Beliau ngendikan (bilang), ‘Sok nek aku wes raono, aku tak ndelok teko kadohan’ (Besok kalau saya sudah tidak ada, saya akan lihat dari kejauhan),” kenangnya, menirukan ucapan Ki Anom.
Bahkan, pada pertemuan terakhir, Ki Anom Suroto sempat “berpamitan” dengan cara yang unik. Sang putra, yang juga seorang dalang, memiliki jadwal ndalang di Magetan. Ki Anom pun berkata akan “menontonnya” dari jauh.
“Tadi malam saya terakhir ketemu beliau. Beliau ngendika, ‘Sesok (kamu) Magetan, aku tak nunggoni teko kadohan. Sesok arep lungo’. (Besok kamu ke Magetan, aku akan menunggui dari kejauhan. Besok mau pergi). Beliau bilang seperti itu,” ungkapnya lirih.
Kepergian Ki Anom Suroto bukan hanya duka bagi keluarga, tapi kehilangan besar bagi jagat pedalangan Indonesia. Pria bernama lengkap Ki KRT H Lebdo Nagoro Anom Suroto ini adalah seorang legenda hidup.
Menurut artikel yang diposting akun Facebook, Aku Wong Klaten, Anom Suroto Lahir di Juwiring, Klaten, pada 11 Agustus 1948, darah seni telah mengalir deras dalam dirinya. Ayahnya adalah dalang kondang, Ki Sadiyun Harjadarsana. Tak heran, Ki Anom Suroto muda sudah naik panggung untuk ndalang sejak usia 12 tahun.
Bakat alam itu diasahnya dengan serius. Ia tak hanya belajar dari sang ayah, tapi juga berguru pada maestro lain seperti Ki Nartasabdo. Ia tercatat mendalami ilmu pedalangan di Himpunan Budaya Surakatya (HBS), Pasinaon Dalang Mangkunegaran (PDMN), Pawiyatan Kraton Surakarta, hingga Habiranda di Yogyakarta.
Debut siaran pertamanya mengudara di Radio Republik Indonesia (RRI) pada 1968. Sejak itu, kariernya tak terbendung. Kiprahnya membawanya ke Keraton Kasunanan Surakarta sebagai abdi dalem Penewu Anon-anon, dengan gelar Mas Ngabehi Lebdocarito.
Tampil di Lima Benua
Ki Anom Suroto mencatatkan sejarah sebagai dalang Indonesia pertama yang pernah tampil di lima benua. Ia membawa lakon-lakon karyanya seperti Kresna Datu dan Semar Maneges ke Amerika Serikat, Jepang, Spanyol, Jerman, Australia, hingga Rusia.
Sederet prestasi mengiringi perjalanannya. Dari gelar Dalang Kesayangan Pekan Wayang Indonesia VI 1993 hingga anugerah Satya Lencana Kebudayaan dari Presiden Soeharto. Ia juga aktif di organisasi, menjabat sebagai Ketua III Pengurus Pusat Persatuan Pedalangan Indonesia (PEPADI) Periode 1996-2001.
Kini, sang maestro telah menuntaskan perjalanannya. Putra Ki Anom Suroto lainnya, Jatmiko, mengonfirmasi bahwa ayahnya dilarikan ke rumah sakit lima hari lalu akibat serangan jantung. “Iya betul (meninggal dunia), jam 7 pagi tadi di Rumah Sakit dr. Oen Kandang Sapi, Solo,” kata Jatmiko saat dihubungi.
Menurutnya, kondisi Ki Anom sempat sadar selama di ruang ICU. Namun, takdir berkata lain. “Kondisi kemarin masih sadar, tadi sudah nggak (sadar diri),” ucapnya. Jatmiko menambahkan, selain serangan jantung, ayahnya juga memiliki riwayat diabetes.
Sebelum wafat, Ki Anom Suroto telah menitipkan wasiat penting. Kepada Jatmiko, ia berpesan agar anak-anaknya melanjutkan kiprahnya di dunia pedalangan dan harus selalu rukun.
“Kemarin masih sempat berkomunikasi. Intinya, (kami) disuruh melanjutkan perjalanan bapak, sama anak-anak rukun, nggak boleh ada yang berkelahi,” ungkap Jatmiko.
Pesan untuk melanjutkan warisan seni pakeliran gaya Surakarta itu juga disampaikan kepada putranya yang lain. “Dawuh-nya (perintahnya), ‘Titip yo Pras, tutukno lakune bapakmu. Pokoke kudu sing wajuh, kudu hati-hati… ojo nganti ninggal paugeran’ (Titip ya Pras, lanjutkan perjalanan bapakmu. Pokoknya harus sungguh-sungguh, harus hati-hati… jangan sampai meninggalkan aturan),” kenang sang putra.
Penampilan terakhir Ki Anom Suroto di panggung terjadi beberapa bulan lalu di Sukoharjo. Kala itu, ia tampil bertiga bersama putranya dan dalang Ki Bagong Kusudiardjo.
Jenazah almarhum akan disemayamkan di rumah duka, Ndalem Timsan, Makamhaji, Sukoharjo. Selamat jalan, sang maestro pedalangan.***



Tinggalkan Balasan