Di antaranya dia bercerita kalau beliau (Bung Karno) merupakan murid/santri “ngintel’ KH. Ahmad Dahlan sewaktu bar tabligh di Surabaya. Pernah jadi anggota dan pengurus Wilayah Muhammadiyah Bengkulu bidang Pendidikan. Istri Bung Karno (Ibu Fatmawati ibunya Megawati Soekarnoputri) adalah aktivis Nasyiatul Aisyiah Muhammadiyah Bengkulu. Mertua Bung Karno, Ayah Fatmawati Hasan Din merupakan Ketua Wilayah Muhammadiyah Bengkulu. Dan pesan Bung Karno jika mati minta dikafani Bendara Muhammadiyah.

Kedua: aspek pemikiran dan aksi sosial-politik Bung Karno selaras dengan pemikiran dan aksi sosial-politik KH. Ahmad Dahlan, terutama terkait keperpihakan terhadap kaum lemah, kaum tertindas dan kaum marginal bangsa Indonesia.

Jika Bung Karno menggunakan ideologi Marhaenisme sebagai landasan pembelaan dan pemihakan secara kuat terhadap kaum lemah, kaum marginal, kaum terpinggirkan di Indonesia. Marhaenisme adalah sosio-nasionalisme dan sosio demokrasi. Marhaenisme adalah cara perjuangan dan azas yang menghendaki hilangnya tiap-tiap kapitalisme dan imperialisme (penindas) kaum lemah. Marhaen merupakan kaum melarat Indonesia, yang terdiri dari buruh tani, buruh, pegawai kecil, pengusaha kecil, kusir, tukang, dan kaum kecil lainnya.

Sementara KH. Ahmad Dahlan menggunakan teologi al Ma’un sebagai landasan ideologi pembelaan dan pemihakan secara kuat terhadap kaum lemah, fakir miskin, yatim piatu, dan kelompok terpinggirkan di Indonesia.