“Terapi HIV dengan ARV ini sangat menjanjikan, karena target pemerintah sendiri dalam 6 bulan pertama, 95% virusnya sudah harus tidak terdeteksi. Jika sudah tidak terdeteksi, maka diharapkan kekebalan tubuhnya akan bangkit dengan sendirinya. Kalau kekebalan bangkit, maka diharapkan pasien HIV akan kembali pulih menjadi manusia normal seperti biasa dari sisi imunitasnya, namun tetap harus mengonsumsi ARV,” jelas dr. Erwin

Sebagaimana diketahui, tahun ini Hari AIDS Sedunia mengangkat tema global ‘Let communities lead’ yang bermakna dunia dapat mengakhiri AIDS, dengan komunitas yang memimpin. Sedangkan tema nasional dituturkan dr. Erwin adalah ‘Bergerak bersama komunitas, Akhiri AIDS 2030’.

Mengacu pada Peraturan Daerah Provinsi Jawa Timur Nomor 12 Tahun 2018 tentang Penanggulangan HIV dan AIDS, dr. Erwin menjelaskan, Human Immunodeficiency Virus (HIV) merupakan virus yang menyerang sel darah putih yang mengakibatkan menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia, sehingga tubuh manusia mudah terserang oleh berbagai macam penyakit. Sedangkan AIDS, adalah sekumpulan gejala penyakit yang disebabkan oleh menurunnya sistem kekebalan tubuh manusia akibat infeksi virus HIV.

Seperti halnya penyakit kronis lainnya, baik diabetes maupun hipertensi, dr. Erwin menganjurkan, maka untuk mengendalikan penyakit tersebut, penderita diabetes maupun hipertensi harus mengonsumsi obat secara rutin sepanjang hidupnya. Begitu pula dengan ODHIV, walaupun virusnya sudah bisa dikendalikan, ARV harus tetap dikonsumsi sampai sepanjang hidupnya. 

“Namun, jangan dibayangkan sepanjang hidup harus minum obat, tetapi hanya cukup meluangkan waktu 5 menit setiap harinya untuk mengonsumsi ARV, imunitas ODHIV bisa terjaga dan bisa melakukan aktivitas sehari-hari seperti biasa. Jadi, penyakit HIV tidak ada bedanya dengan penyakit kronis lainnya, pemenangnya adalah siapa yang mau berobat,” ujar dr. Erwin.