Patung Bung Karno, ikon Kota Blitar menyambut pengunjung yang datang dari timur atau arah Kabupaten/Kota Malang.
Foto:Tangkapan Layar Blitarkota.go.id
  • Blitar kutho cilik sing kawentar
  • Edi peni Gunung Kelud sing ngayomi
  • Blitar jaman Jepang nate gempar
  • Peta brontak sing dipimpin Supriyadi
  • Blitar nyimpen awune sang noto Majapahit
  • ning Candi Panataran
  • Blitar nyimpen layone Bung Karno
  • Proklamator lan presiden kang kapisan
  • Ono crito jare Patih Gajah Mada
  • Ingkang bisa nyawijikne nuswantoro
  • Lan ugo Bung Karno sing kondang kaloko
  • Eneng tlatah Blitar lahir cilik mula
  • Ora mokal Blitar dadi kembang lambe
  • Ora mokal akeh sing podo nyatakne
  • Yen ta geni murup akeh semangate
  • Yen ta banyu nukulake patriote.           

Demikian lirik Blitar Kawentar, tembang ciptaan Andjar Any. Maestro langgam Jawa itu seolah malih rupa menjadi orang Blitar saat menciptakan tembang Blitar Kawentar. Liriknya sangat mewakili cipta dan karsa wong Blitar, mulai pemilihan kata hingga ikon-ikon Blitar. Semuanya seolah menegaskan sebagian jiwa Anjar Any adalah orang Blitar.  

Almarhum Andjar Any. Foto keroncongasli.blogspot.com via cariaku.com

Almarhum Andjar Any, pencipta lagu Blitar Kawentar. Foto: keroncongasli.blogspot.com via cariaku.com

Benarkah demikian? Bila membaca sumber Wikipedia, kenyataannya, Anjar Any adalah orang Solo. Dia maestro langgam Jawa yang lahir dengan nama Andjar Mudjiono pada 3 Maret 1936, dan meninggal dunia pada 13 November 2008 akibat strok. Andjar Any adalah nama panggung KRT Andjar Any Singanagara. Seniman yang sudah menciptakan lebih dari 1050 lagu. Teman sesama seniman menduga Andjar Any semasa hidup telah mencetak di atas 2.000 lagu langgam jawa.

Lagu ciptaannya yang popular hingga kini dan sering di-cover anak-anak muda di Youtube, di antaranya Jangkrik Génggong, Yèn ing Tawang Ana Lintang, Blitar Kawentar, Nyidham Sari, Kasmaran (Iki Wèk-é Sapa), Lintang Panjer Rina, Petruk Dadi Ratu, dan Taman Jurug.

Pada tahun 1960-an langgam Jawa mulai disukai orang. Penyanyi langgam Jawa populer saat itu, Waldjinah menyanyikan sejumlah lagu karangan Anjar Any. Lagu-lagu karangannya juga dipopulerkan oleh Ki Narto Sabdo dan Gesang. Pada saat musik campursari dan congdut mulai populer pada akhir 1980-an sampai pertengahan dekade 2000-an, lagu-lagunya banyak dinyanyikan oleh tokoh-tokohnya, seperti Manthous dan Didi Kempot.

Selain dikenal sebagai penulis lagu, Andjar Any banyak menulis cerpen (bahasa Jawa: cerkak, singkatan dari crita cekak (cerpen) serta puisi bebas berbahasa Jawa (geguritan). Cakupan minat seninya juga merambah ke aspek seni pertunjukan. Ia pernah menjadi pembina suatu organisasi reog. Selain itu, ia mendirikan pula grup campursari “Sangga Buana” dan grup keroncong “Hanjaringrat”.

Sebagai wartawan ia pernah mengasuh koran lokal Pos Kita. Sejumlah tulisannya merupakan kronik sejarah. Andjar Any menikah dengan Piyatni (“Niek “) dan pasangan ini dikaruniai lima anak. Pada bulan Maret 2008 ia masih sempat merayakan perkawinan emasnya (50 tahun). Ia wafat setelah sakit stroke pada 13 November 2008. Jenazahnya dimakamkan di Astana Bibisluhur, Surakarta.