Sukarno saat diasingkan Pemerintah Hindia Belanda ke Ende, Flores, pada tahun 1933. Foto:Tangkapan Layar PDIP

JAKARTA — Kamis, 6 Juni 2024, diperingati sebagai Hari Lahir Sukarno, Presiden pertama Indonesia. Sukarno, yang lahir pada 6 Juni 1901 di Surabaya dengan nama kecil Kusno Sosrodihardjo, adalah sosok yang tidak hanya dikenal sebagai proklamator kemerdekaan, tetapi juga sebagai pejuang tangguh yang melewati berbagai cobaan, termasuk masa pengasingannya di Ende, Pulau Flores.

Sejak kecil, Sukarno sudah menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Anak dari pasangan Raden Soekemi Sosrodihardjo dan Ida Ayu Nyoman Rai ini mulai mengenyam pendidikan di Eerste Inlandse School, tempat ayahnya bertugas sebagai kepala sekolah. Meskipun sempat sakit-sakitan hingga harus mengganti nama dari Kusno menjadi Sukarno, semangat belajarnya tak pernah padam.

Sukarno, yang kemudian dikenal sebagai Bung Karno, memimpin Indonesia melawan penjajahan hingga akhirnya memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Namun, perjuangan Sukarno tidak berhenti di situ. Pada 28 Desember 1933, Gubernur Jenderal De Jonge dari Pemerintah Kolonial Hindia Belanda mengeluarkan keputusan untuk mengasingkan Sukarno ke Ende bersama keluarganya.

Di tanah pembuangan, Sukarno tidak hanya harus bertahan hidup tetapi juga harus memenuhi kebutuhan keluarganya. Bersama sang istri, Inggit Garnasih, ibu mertuanya, Amsi, dan kedua anak angkatnya, Ratna Juami dan Kartika, mereka tinggal di sebuah rumah kosong milik Haji Abdullah Ambuwaru di Kampung Ambugaga. Empat tahun masa pengasingan tersebut, dari 1934 hingga 1938, dihabiskan dengan berbagai perjuangan demi kelangsungan hidup.

Dalam buku otobiografi “Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia” yang ditulis Cindy Adams, Sukarno mengisahkan bagaimana ia mencari nafkah dengan menjadi penjual bahan pakaian. Berkeliling dari rumah ke rumah, Sukarno menawarkan pakaian dengan harga lebih murah dari toko-toko setempat. Dari setiap barang yang terjual, ia mendapatkan komisi 10 persen. Ketika uang tak cukup, ia bahkan menjual cincin akik pemberian temannya di Bandung seharga 150 rupiah kepada seorang saudagar kopra.

Solidaritas kawan-kawan Sukarno di Jawa turut membantu. Mereka mengirimkan bahan makanan atau uang. Namun, meskipun mendapat bantuan, Sukarno tetap meneruskan sebagian besar donasi kepada para pejuang di pengasingan Digul, Papua.

“Saat pertama kali menginjak Ende, aku berusia 32 tahun dan mencoba segala cara agar dapur rumah tetap mengepul,” kenang Sukarno. Ia mengatur keuangan keluarganya dengan sangat cermat, meski mereka memiliki sedikit uang. Makanan mereka sederhana: nasi, sayur, buah-buahan, daging ayam, dan telur, terkadang ikan asin. “Sayuran berasal dari kebun sendiri, ikan dari kawan-kawanku nelayan,” tambah Sukarno dikutip dari laman PDI Perjuangan Jawa Timur.

Hari ini, kita mengenang bukan hanya hari kelahiran seorang pemimpin besar, tetapi juga perjalanan hidup yang penuh pengorbanan dan keteguhan hati. Sukarno bukan hanya presiden pertama Indonesia, tetapi juga simbol keteguhan hati dan semangat juang yang menginspirasi seluruh bangsa. Melalui kisahnya, kita diingatkan akan pentingnya perjuangan, kebersamaan, dan pengorbanan demi mencapai kemerdekaan dan kesejahteraan bersama.