Penjelasan keluarga Ndalem Pojok ini selaras dengan apa yang tertulis dalam buku “Soekarno Putra Sang Fajar” karya Sholichin Salam. Di halaman 18, Sholichin Salam menulis, “Kelahirannya tidak ditolong oleh suster maupun dukun bersalin di kampung, melainkan hanya disaksikan oleh Ayah dan Pak Suro. Bahkan Mbah Suro Sentono inilah yang memotong pusarnya bayi Sukarno.”

Kushartono menyimpulkan, “Kalau Bung Karno menyebut kakek tua yang menyambut kehadirannya di dunia, keluarga Ndalem menceritakan Kek Surosentono sebagai yang menampung bayi Sukarno, sementara Sholichin Salam menulis Mbah Surosentono yang memotong pusarnya bayi Sukarno. Jadi, biografi Bung Karno, cerita dari Ndalem Pojok, dan buku karya Sholichin Salam saling mendukung.”

Kushartono mengungkapkan bahwa cerita tentang Kek Surosentono ini didapat langsung dari ayahnya, yang juga tinggal di Istana Presiden Sukarno di Jogja. Pengungkapan ini tidak hanya memperkaya sejarah pribadi Bung Karno, tetapi juga memberikan penghargaan kepada sosok-sosok yang selama ini tersembunyi di balik layar sejarah besar Indonesia.

Kek Suro, atau Kiai Mas Surosentono, kini dikenang sebagai saksi kunci kelahiran Bung Karno, yang berani bersumpah tentang kelahiran Sang Proklamator. Perannya yang begitu vital dalam momen kelahiran ini menunjukkan betapa pentingnya sosok-sosok di balik layar dalam perjalanan hidup tokoh-tokoh besar. Keberanian dan kesetiaan Kek Suro kepada keluarga Bung Karno menjadi teladan bagi generasi berikutnya, mengingatkan kita bahwa sejarah tidak hanya dibentuk oleh para pemimpin besar, tetapi juga oleh mereka yang berada di balik layar, menyokong dan mendukung dengan cara mereka sendiri.